Assalamualaikum Sayang

Assalamualaikum sayang

Kubawakan kau seikat kembang

sebagai perlambang

cinta ini tak pernah hilang

 

Kukirim padamu setangkup rindu

Kutiupkan pada butiran debu

Manja menggayut di nisanmu

 

Kubisik lirih selaksa kasih

Menyamudera di dalam diri

Percayalah, dirimu takkan tersisih

 

Kuhadiahi kau sebongkah cinta

Nan bergemuruh di dada

Menyatu di batas usia

 

Kurapalkan berbuncah doa

Melangit, berharap tak pernah alpa

Sebagaimana kaupinta

di ujung usia:

 

Doakan aku selalu ya Mik…

 

Assalamualaikum sayang

Kutinggalkan dirimu

Bersama lautan rindu

Yang harus kucumbu sepanjang waktu

 

Sidoarjo, 20 Oktober 2021

Harusnya…

Kumenanti seorang kekasih di antara permadani padi (Dokumen pribadi)

Harusnya…

Hari ini aku bermanja pada teduh pandang matamu. Pada hangat dadamu kudengar cinta di setiap detak jantungmu. Meski lisanmu tak lahirkan itu. Mewujud laku nan tak jemu di sepanjang waktu.

Pada hening malam tanpa rembulan kita buka cakrawala. Menggambar asa mengembarakan impian. Tentang sejuk segar hawa pegunungan. Lembut desau sang bayu mengalun membelai merdu.

Tentang mungil istana yang akan kita huni tanpa kurcaci. Dikelilingi hijau permadani padi. Harum putih kuntum melati ditingkah wangi petrikor di pagi hari. Gemericik air mencipta melodi. Mengalir tanpa henti sepanjang hari. Persis seperti cinta ini. Continue reading “Harusnya…”

Rindu

Pernakah kau rasakan rindu yang sangat?
mencabik-cabik relung hatimu?
Hingga kau tak mampu lagi membendung
gejolak dalam dadamu
menghujan air mata
di setiap detik harimu

lalu membuncah bahagia
meski hanya selintas
siluet tubuhnya
yang kau tangkap

pernakah kau pupuk rindu yang berat
dan kau bawa bawa
kemana kaki melangkah
namun saatnya tiba
kau hanya bisa pasrah

sebab binar bahagia
hilang di matanya
redup
sembunyi
entah di mana

mengapa takkaupendarkan
hangat?
entahlah

Selepas takziah

Selepas takziah di rumahmu, Nak Ahmad Nizar Permana

Selalu ada cerita
di setiap takziah
kali ini tentang cinta
bunda dan ananda
tentang senyuman terkembang
tuk hindarkan sesak ibunda

tentang daya juang
gelora seorang pemuda
mengalahkan kekarnya ayahanda
tentang puasa nekat
dan canda tak menjadi sekat

tentang tegarnya bunda
melepas cinta.

sementara
karena sang maha Hidup memintanya

semoga semua bernilai ibadah
meski seuntai senyuman
tuk kaburkan rasa sakit
yang takpernah terucap

selamat jalan ananda Ahmad Nizar Permana
Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu