Cincin

source: shopee.co.id

Entah mengapa tiba-tiba Siti sangat mendamba sebuah cincin.  Cincin emas tepatnya. Alangkah menyenangkan jika ada satu saja yang melingkari jari manisnya. Kecil pun tak apa-apa. Sudah terlalu lama Siti membiarkan jari manisnya itu telanjang tanpa pemanis. Sebenarnya bukan hanya jari manis, tetapi juga leher, lengan, dan kedua telinganya. Kosong. Song.  Kalau dihitung-hitung sih sudah belasan tahun.

Tentu saja itu semua bukan kehendaknya. Siti adalah perempuan. Sebagaimana perempuan lain yang mencintai keindahan,  tak terkecuali dia. Barangkali kehendak takdirlah yang memaksanya membiarkan jemarinya cantik alami. Pun leher, lengan, dan kedua telinganya.

Cantik? Apa iya masih tersisa? Dilihatnya buku-buku jarinya, kulit yang mulai kering, kusam, gelap dan tampak sedikit keriput. Kata orang semakin tua usia seseorang, semakin gelap kulitnya. Apalagi kalau tidak dirawat. Aaah… perawatan? Memikirkannya saja tidak berani. Dari mana ia mendapatkan dana perawatan diri kalau untuk membayar SPP anaknya saja masih terseok-seok.

*** Continue reading “Cincin”