Tiket ke Yogyakarta

Alhamdulillah. Akhirnya saya punya tiket ke Yogya. Tiket itu berupa buku tunggal yang saya tulis saat menjalani Pendidikan Guru Penggerak (PGP) selama sembilan bulan. Durasi waktu yang tidak bisa dibilang pendek itu menawarkan sejumlah tantangan. Apalagi saat menjalani pendidikan, guru tidak boleh meninggalkan tugas utamanya di sekolah-mengajar. Tantangan demi tantangan yang ada bisa saya selesaikan dengan baik. Semuanya saya tuliskan sedikit demi sedikit di blog. Menabung tulisan, begitu beberapa teman penulis mengistilahkan.

Kumpulan tulisan tersebut akhirnya menemui takdirnya menjadi buku. Buku berjudul Jalan Panjang Menuju Guru Penggerak berisi refleksi saya terhadap tugas-tugas yang diberikan, rencana aksi, dan laporan aksi nyata yang kami lakukan sebagai calon guru penggerak. Sebuah aksi yang barangkali kecil tetapi jika dilakukan secara masif tentu akan berdampak. Buku inilah yang akan membawa saya ke Yogyakarta. Sebenarnya, buku ini sudah siap sejak awal tahun lalu namun karena gonjang-ganjing ISBN di negeri ini saya harus menunggu sekitar 6 bulan. Alhamdulilah, jika Allah menghendaki saya akan ke Yogjakarta dengan tiket buku ini. Kok bisa? Begini ceritanya. Continue reading “Tiket ke Yogyakarta”

Drakor

sumber: cnnindonesia.com

Saya termasuk orang yang jarang menonton televisi. Dalam kondisi normal, televisi di rumah jarang dinyalakan. Yang saya maksud dengan kondisi normal adalah 5 hari kerja, 8 jam sehari plus 1-2 jam pengembangan diri. Ikut kelas-kelas online, webinar, menikmati podcast, membaca buku, menulis, dan sesekali menyapa komunitas. Kalau sedang ada side hustle ya ngerjakan itu.  Pekerjaan sampingan. Ritmenya seperti ini. Pagi sampai sore kerja. Sepulang kerja istirahat sebentar, nyiram bunga, bersih diri, sholat, makan, santai sejenak lanjut ngerjakan proyekan. Kalau sedang tidak ada proyekan saya lebih memilih tidur. Continue reading “Drakor”

Lulus

sumber: dokpri

Berhasil… berhasil….berhasil…. horeee!!!

Kalau Anda pecinta film animasi anak Dora the Explorer pasti ingat lagu itu. Setiap selesai melakukan misinya, gadis berponi ini selalu berteriak seperti di atas. Penuh keceriaan dan rasa bahagia. Perasaan inilah yang menggambarkan para Calon Guru Penggerak (CGP)  Angkatan 2 yang kemarin dinyatakan lulus dari Pendidikan Guru Penggerak (PGP) selama 9 bulan. Alhamdulillah. Hanya karena rahmat Allah semua ini terjadi.

Dari 3140 orang CGP yang berasal dari 71 kabupaten/kota di 23 provinsi ada 3004 CGP yang lulus. Sekitar 131 orang tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena sakit, meninggal, pindah tugas, dan 5 orang dinyatakan tidak lulus. Demikian sambutan DR. Praptono, Direktur Kepala Sekolah Pengawas Sekolah dan Tenaga Kependidikan dalam acara penutupan PGP Angkatan 2 kemarin (Rabu, 19 Januari 2022). Continue reading “Lulus”

DEAR, Drop Everything And Learn

Beberapa tahun silam sebelum Gerakan Literasi Sekolah semarak saya pernah melaksanakan praktik-praktik literasi terkait pembelajaran bahasa Inggris dalam bungkus Extensive Reading (ER). ER ini berbeda dengan Intensive Reading (IR).

IR adalah apa yang biasa kita lakukan di ruang kelas. Guru memberikan bacaan yang sama pada murid. Mereka wajib membaca teks yang sama dan mengerjakan latihan-latihan soal yang mengiringinya. ER sebaliknya. Guru memberikan bacaan yang berbeda pada murid sehingga mereka membaca teks yang berbeda. Mereka membacanya di luar jam pembelajaran. Bisa pada saat istirahat, saat menunggu jemputan, saat rehat di rumah, dalam perjalanan, dan kesempatan-kesempatan lainnya. Mereka bisa memilih bacaan yang mereka senangi sehingga membaca benar-benar menjadi aktivitas yang menyenangkan. Reading for pleasure. Continue reading “DEAR, Drop Everything And Learn”

Mengintip Kurikulum Paradigma Baru

CP, TP, dan ATP

Beberapa waktu yang lalu seorang teman penerbit menawari saya bergabung menulis buku ajar berdasarkan Kurikulum Sekolah Penggerak (KSP) untuk mengikuti penilaian. Beliau memberi saya beberapa file terkait KSP. Di saat yang sama, di grup  Whatssap Guru Penggerak kelompok saya terjadi diskusi hangat tentang KSP ini. Pengajar Praktik saya-Pak Mifta Churohman– membagikan beberapa file yang melengkapi file-file yang saya terima dari teman penerbit di atas.

Dalam diskusi tersebut, fasilitator saya– Ibu Anastasia Moertodjo–mengatakan sekolah yang lolos sebagai sekolah penggerak memang menerapkan kurikulum ini. Bahkan di tahun-tahun mendatang akan diberlakukan sebagai kurikulum baru. Belum ada namanya sih tapi untuk sementara diberi nama Kurikulum Paradigma Baru. Semakin penasaran saya. Continue reading “Mengintip Kurikulum Paradigma Baru”

Generation Global

Flyer 10th Anniversary of Generation Global

Sebelumnya saya sampaikan terima kasih yang dalam pada teman kuliah S1 saya- Ilmi Kharisah yang telah mengenalkan pada Generation Global (GG). Ceritanya, awal merintis kelas internasional saya menghubungi beberapa teman yang pernah tampak berkegiatan bertaraf internasional. Maksud tampak di sini adalah saya pernah menyaksikan foto-foto mereka atau mendiskusikan program-program sekolah di grup komunitas. Yang paling gampang yaa.. yang ada foreigner-nya gitu karena salah satu tujuan kelas internasional di SMP Al Hikmah adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya pada murid untuk  berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Selain itu juga terhubung dengan teman-teman mereka di seluruh penjuru dunia. Ah…alangkah senangnya. Continue reading “Generation Global”

Hybrid Learning

Pekan-pekan ini sekolah di berbagai daerah sedang sibuk melakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. Disebut terbatas karena hanya mendatangkan 50% siswa dalam satu kelas. Pekan sebelumnya 25% dari jumlah anak di kelas.  Model pembelajaran yang digunakan hybrid learning. Artinya, guru mengajar di depan separo jumlah anak di kelas secara langsung (on-site) dan separo lainnya melalui video conference (online) pada saat yang sama.

Bersyukurlah guru-guru yang melakoni ini karena kita banyak belajar hal-hal baru. Sesuatu yang baru selalu menarik untuk dikaji. Bahasa sederhananya diceritakan. Dulu, saat awal pandemi kita belajar bagaimana mengajar secara online. Mendadak daring. Kita pun tergagap-gagap. Continue reading “Hybrid Learning”

Kekuatan Teman Sejawat

Saya bersama teman sejawat CGP Angkatan 2 Surabaya dan Pengajar Praktik

Satu hal yang saya pelajari dari Lokakarya 5 Pendidikan Guru Penggerak (PGP) hari ini adalah kekuatan teman sejawat. Jadi, Calon Guru Penggerak (CGP) ini diminta menuliskan hal-hal apa yang berkembang setelah mengikuti PGP selama 6 bulan ini. Jawaban sangat beragam. Ada yang menuliskan pengembangan pembelajaran, keaktifan dalam komunitas praktisi, keterampilan coaching, kemampuan mengelola aset sekolah, dan lainnya.

Yang menarik adalah ketika ditanya faktor pendukung apa yang paling berpengaruh dalam berkembangnya kemampuan CGP ini. Mayoritas menjawab teman sejawat. Hal ini  sangat beralasan  mengingat CGP tidak bisa bekerja sendiri baik ketika dalam pendidikan maupun aplikasinya di sekolah. Continue reading “Kekuatan Teman Sejawat”

Asset Based Community Development (ABCD)

Judul tulisan ini kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Pengembangan Komunitas berbasis Aset. Gagasan tersebut dicetuskan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann– pendiri ABCD Institute di Northwestern University. Pemikiran tersebut muncul sebagai kritik atas pemikiran tradisional yang menekankan pada masalah, kekurangan, dan kebutuhan dalam sebuah komunitas. Bahasa kerennya Deficit Based Community Development (DBCD). Dengan bahasa sederhana bisa dikatakan komunitas sebagai penerima bantuan. Karena menerima bantuan, otomatis komunitas tersebut tidak berdaya, pasif, dan bergantung pada orang lain.

Sebaliknya, ABCD menciptakan komunitas yang berdaya, aktif, mandiri, dan produktif. Komunitas ini melihat semua aset yang mereka miliki untuk menyelesaikan tantangan yang mereka hadapi. Modalnya apa? Kekuatan positif dan potensi yang ada dalam diri mereka sendiri. Dengan demikian, hasil yang diharapkan akan lebih optimal.

Sekolah sebagai komunitas bisa memetakan kekuatan positif, aset atau modal utama dalam menjawab permasalahan yang ada. Kalau sebelumnya menggunakan pendekatan berbasis masalah sekarang sudah saatnya melalui pendekatan aset, modal atau kekuatan positif yang ada. Continue reading “Asset Based Community Development (ABCD)”

Berpikir Berbasis Aset

Gelas ini setengah penuh atau setengah kosong? (gambar: wikipedia)

Kata “aset” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti modal atau kekayaan. Kekayaan adalah segala yang kita punya. Tidak harus  berbentuk uang dan harta berharga lainnya. Fisik kita,  pikiran, kesehatan, pendidikan, agama, dan lainnya.

Kalau Anda mengikuti sinetron Keluarga Cemara di tahun 90-an pasti masih ingat soundtrack-nya.  Menurut Abah dan Emak harta yang paling berharga adalah keluarga. Keluarga Cemara ini pernah hidup berkecukupan di Jakarta hingga suatu ketika hartanya ludes. Mereka harus meninggalkan kenyamanannya. Beradaptasi dengan kehidupan baru yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Justru di sinilah mereka menemukan makna harta sesungguhnya yaitu keluarga.

Bung Hatta  lain lagi. Salah satu harta berharganya adalah buku. Saat diasingkan ke Boven Digul, ia membawa serta 16 peti berisi buku. Satu petinya bervolume  ¼ meter kubik. Jadi, total ada 4 meter kubik. Tulis Bung Hatta dalam memoarnya. Untuk memasukkan buku-buku tersebut ke dalam peti besinya saja membutuhkan waktu tiga hari. Sementara untuk pakaian, beliau hanya membawa 1 koper. Buku-buku itulah kekayaannya. Meskipun tubuhnya terpenjara Bung Hatta merasa merdeka karena pikirannya tidak terkungkung. Bung Hatta fokus pada aset yang dimilikinya—buku, kebebasan jiwa—dibanding dengan harta yang tak dimilikinya, kebebasan tubuh karena terpenjara. Continue reading “Berpikir Berbasis Aset”