Drakor

sumber: cnnindonesia.com

Saya termasuk orang yang jarang menonton televisi. Dalam kondisi normal, televisi di rumah jarang dinyalakan. Yang saya maksud dengan kondisi normal adalah 5 hari kerja, 8 jam sehari plus 1-2 jam pengembangan diri. Ikut kelas-kelas online, webinar, menikmati podcast, membaca buku, menulis, dan sesekali menyapa komunitas. Kalau sedang ada side hustle ya ngerjakan itu.  Pekerjaan sampingan. Ritmenya seperti ini. Pagi sampai sore kerja. Sepulang kerja istirahat sebentar, nyiram bunga, bersih diri, sholat, makan, santai sejenak lanjut ngerjakan proyekan. Kalau sedang tidak ada proyekan saya lebih memilih tidur.

Televisi nyaris mati. Saya hanya menyalakannya di akhir pekan. Sebagai hiburan. Sekadar menikmati film dokumenter a la NatGeo, acara kuliner, dan film-film bergenre detektif, thriller. Saya suka jenis film yang mikir seperti ini. Menyatukan kepingan puzzle yang berserak menjadi kenikmatan tersendiri.

Suatu hari saya benar-benar gabut. Menganggur ternyata nggak enak. Mau baca buku juga agak malas karena saya ingin rebahan. Akhirnya saya raih remote tv. Film-film di stasiun tv berbayar rasanya membosankan hingga saya menabrak batasan yang saya buat sendiri. Apa itu? Drakor. Saya paling tidak senang drama berkepanjangan dan menguras air mata. Ini masalah interest saja sih sebenarnya. Apalagi jika ceritanya jauh dari logika. Hidup tak seindah drama Korea.

Saya pencet-pencet remote tv namun tidak satu pun yang menarik minat saya. Akhirnya jari saya berhenti di One-stasiun televisi yang menyiarkan entertainment berbau Korea selama 24 jam. Materi di stasiun ini disuplasi oleh jaringan SBS-Seoul Broadcasting System. Saat itu sedang menayangkan drama seri Doctor Room episode 10. Intronya yang ciamik bikin saya tertarik. Dramanya disetting dobel episode. Jadi saya  menonton episode 10 dan 11. Sebagai penghilang penat, lumayan lah. Sembari rebahan sambil mengamati kehidupan para dokter dan nakes lainnya, hiruk pikuk di rumah sakit, dan romance (ini selalu ada kayaknya).

Saya masih belum paham tentang apa drama ini. Maklum, langsung masuk episode 10. Pelan-pelan saya coba mencerna. Hari-hari berikutnya saya sibuk sehingga tidak sempat menyalakan televisi. Begitu terjadi selama beberapa pekan hingga di akhir pekan secara tidak sengaja saya melihat drama ini lagi. Saya tidak ingat sudah episode ke berapa. Neuron-neuron di otak saya mulai menyusun potongan-potongan puzzle cerita ini. Mencoba menghubungkan dengan informasi-informasi yang saya dapatkan di episode sebelumnya. Heeem…. menarik juga.

Pemain utama pria Ji Sung, wanita Lee Se Young. Kelak di kemudian hari, saya benar-benar ngefans sama Ji Sung. Hahaha.. Jisung adalah salah satu aktor ternama di Korea.  Setiap peran yang dimainkannya dieksekusi dengan sempurna. Kalau di Indonesia mungkin setara dengan Reza Rahardian. Yang lebih senior Dedi Mizwar.  Kalau di Barat mungkin setara Denzel Washington, Dustin Hoffwan, Al Pacino, atau Tom Hank. Namun mereka jauh lebih senior dibanding Jisung. Meski demikian, Jisung memiliki karakter yang serupa. Aktor  berbakat dengan karakter yang kuat.

Doctor Room atau ada yang menyebutnya Doctor John bercerita tentang seorang dokter anestesi (Cha Yo-Han) yang sombong tapi jenius dan Kan Shi-Yung, dokter residen anestesi yang lembut dan penuh perhatian. Dokter Cha ini menderita penyakit CIPA, sebuah penyakit langka yang membuat penderitanya tidak memiliki kepekaan bawaan. Tidak bisa merasakan sakit dan tidak berkeringat. Konflik-konflik yang dihadirkan baik internal maupun eksternal digarap dengan sangat baik. Saya tidak ingin spoiler bagi yang belum pernah menikmatinya.

Kabarnya, drama ini diangkat dari novel Hand of God karya Yu Kusakabe, penulis Jepang. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan dari drama ini. Salah satunya manajemen sakit. Semua orang pasti pernah merasakan sakit. Tinggal bagaimana kita mengelola rasa sakit itu sehingga pada akhirnya kita bersyukur atas segala nikmat yang ada. Termasuk nikmat sakit itu sendiri. Memberi dukungan pada orang yang sedang sakit.

Nah, saya juga punya penyakit alias kebiasaan buruk. Tidak tahan dengan cliffhanger—akhir sebuah cerita yang membuat kita penasaran, ingin segera mencari tahu what next. Salah satu cerita bagus-apalagi series harus mengandung  cliffhanger ini.  Saya jadi ingat,  ketika masih kanak-kanak  harus mengkhatamkan buku cerita dalam sekali baca. Buku-buku seri Lima Sekawan,  Trio Detektif, Malory Towers saya selesaikan dalam sekali baca. Kadang saya kesusahan ketika buku tersebut memiliki ketebalan di atas rata-rata. Kepala saya pusing kalau belum bertemu endingnya. Seiring berjalannya usia saya lebih realistis. Nggak mungkin menamatkan Harry Potter, Eragon, Da Vinci Code, Musashi dalam sekali baca. Bisa mendem gess.

Thanks to tehnology zaman now. Drama seri bisa disaksikan secara streaming dan bisa dihabiskan sekali tonton. Syaratnya kuat. Hehehe… Untuk mengatasi penyakit saya tadi akhirnya saya cari streaming-nya. The craziest thing I’ve ever done adalah mengkhatamkan Doctor Room ini dalam semalam. Ba’da Isya sampai menjelang Subuh. Gila enggak?

Surabaya, 19 Maret 2022.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.