Mengintip Kurikulum Paradigma Baru

CP, TP, dan ATP

Beberapa waktu yang lalu seorang teman penerbit menawari saya bergabung menulis buku ajar berdasarkan Kurikulum Sekolah Penggerak (KSP) untuk mengikuti penilaian. Beliau memberi saya beberapa file terkait KSP. Di saat yang sama, di grup  Whatssap Guru Penggerak kelompok saya terjadi diskusi hangat tentang KSP ini. Pengajar Praktik saya-Pak Mifta Churohman– membagikan beberapa file yang melengkapi file-file yang saya terima dari teman penerbit di atas.

Dalam diskusi tersebut, fasilitator saya– Ibu Anastasia Moertodjo–mengatakan sekolah yang lolos sebagai sekolah penggerak memang menerapkan kurikulum ini. Bahkan di tahun-tahun mendatang akan diberlakukan sebagai kurikulum baru. Belum ada namanya sih tapi untuk sementara diberi nama Kurikulum Paradigma Baru. Semakin penasaran saya.

Saat agak longgar di malam hari saya membaca file-file tersebut. Ada beberapa catatan yang bisa saya bagi untuk teman-teman yang senang meneropong masa depan. Setidaknya supaya paham dinamika pendidikan di negeri ini. Bagi teman-teman yang sudah membaca KSP barangkali bisa menambahkan catatan di komentar agar bisa saling membangun dan melengkapi. Tulisan ini murni hasil mengintip saya. Hehehe…

Pertama, pembelajaran paradigma baru memastikan praktik pembelajaran berpusat pada murid. Kita akan lebih sering mendengar/membaca tentang Profil Pelajar Pancasila (PPP) karena memang menjadi penuntun arah yang memandu kebijakan pembaruan pendidikan, termasuk pembelajaran dan asesmen. Semua bertujuan mencapai PPP dengan 6 dimensi itu. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Kedua, akan banyak kita temukan istilah baru. Istilah Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) tidak akan kita temukan lagi karena diganti dengan Capaian Pembelajaran (CP). Isinya kompetensi dan karakter yang dicapai murid dalam periode tertentu. CP ini dibagi dalam beberapa fase. Fase fondasi setara dengan Prasekolah TK. Fase A (kelas 1-2 SD) , fase B (kelas 3-4 SD), fase C (kelas 5-6 SD), fase D (kelas 7-9 SMP), fase E (kelas 10 SMA), dan fase F (kelas 11-12 SMA). CP ini digunakan untuk menyusun tujuan pembelajaran (TP) dan alur tujuan pembelajaran (ATP). Gampangnya, TP dan ATP ini hasil dari mretheli CP.

Ketiga, ada perubahan dan pengembangan di sana sini. Contohnya, literasi dasar dan STEAM dikenalkan sejak dini di PAUD. STEAM kependekan dari Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics. Beruntunglah jika TK Anda sudah menerapkan STEAM. Kalau belum sudah saatnya belajar tentang hal tersebut. Merdeka Bermain Merdeka Belajar merupakan CP di PAUD. Bermain-belajar berdasarkan buku bacaan anak-anak. Selain itu, jati diri, nilai agama dan budi pekerti merupakan elemen CP yang melebur dalam pengalaman bermain-belajar sehari-hari.

Mapel IPA dan IPS di SD digabung menjadi IPAS.  Baru terpisah ketika di SMP. Kalau di Kurikulum 13 SD menggunakan tematik, maka KSP memberikan keleluasaan pada sekolah untuk menggunakannya atau beralih kembali pada pendekatan berbasis mata pelajaran.

Informatika menjadi mata pelajaran wajib di SMP setelah sebelumnya dihapus. Guru yang mengajar tidak harus memiliki latar belakang informatika. Nanti akan ada buku guru yang disiapkan untuk guru “pemula” di bab ini. Saya jadi ingat Om Jay—Wijaya Kusuma— dan kawan-kawan guru TIK yang dengan getolnya memperjuangkan agar pelajaran TIK dimasukkan kembali ke dalam kurikulum. Zamannya sudah digital kok tambah dibuang. Ini pikiran sederhana saya.

Empat keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis) berkembang menjadi enam keterampilan dengan penambahan memirsa (viewing) dan mempresentasikan (presenting). Tapi entah mengapa (mungkin saya kurang teliti membacanya) viewing dan presenting ini tidak muncul di SMA. Jadi, kembali ke 4 skills.

Output pembelajaran bahasa Inggris di fase F SMA harus setara B1 skala CEFR (Common European Framework of Reference). Standar Eropa untuk menentukan level bahasa yang dikuasai seseorang. B1 itu setara dengan Pre-Intermediate. Ada juga tingkat lanjut di SMA yang diharapkan mencapai B2 alias Intermediate.

Oya, program peminatan/penjurusan tidak diberlakukan. Di kelas 10 murid menyiapkan diri menentukan pilihan mapel di kelas 11. Di kelas 11 dan 12 murid mengikuti mapel dari kelompok mapel wajib dan memilih mapel dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan keterampilan vokasi sesuai minat, bakat, dan aspirasinya. Sekolah harus membuka minimal 2 kelompok mata pelajaran dari 5 kelompok yang ditawarkan. MIPA, IPS, Bahasa dan Budaya, Vokasi/Karya Kreatif, serta  Seni dan Olahraga.

Satu lagi, project menjadi hal yang sangat penting.  SD minimal harus melaksanakan 2 project dalam setahun, SMP-SMA minimal 3 kali dalam setahun. Mengapa harus Project-Based Learning(PBL)? Karena PBL ini mengakomodir semua keterampilan abad 21 yang dibutuhkan murid. Communication, Collaboration, Critical Thinking, and Creativity. Selain project, murid-murid SMA harus menulis esai ilmiah sebagai syarat kelulusan.

Kemampuan berkomunikasi menjadi hal primer yang harus dimiliki murid-murid kita untuk menyampaikan ide dan gagasan yang ada di dalam kepala. Keterampilan-keterampilan seperti menulis dan public speaking menjadi sebuah tuntutan. Untuk apply beasiswa, internship, magang, short course, dan sejenisnya mereka dituntut menulis esai yang baik. Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu pernah membaca tentang kondisi mahasiswa kita di luar negeri. Masalah konsep masih jago tetapi ketika dihadapkan pada penulisan tugas-tugas dalam bentuk esai, laporan penelitian, mereka kelabakan dibanding teman-temannya yang berasal dari negara dengan tingkat literasi yang tinggi. Mereka tidak lancar menulis karena kurang berlatih. Selain itu, kurang membaca disinyalir menjadi penyebab buntunya menulis. Benarlah apa yang dikatakan orang bijak, membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang logam yang tak terpisahkan.

Kemampuan berbicara di depan umum juga tak kalah pentingnya. Tentu saja tidak sekadar berbicara tetapi bagaimana berbicara dengan runut, berlogika,  isi pembicaraan bernas, yang menurut anak zaman sekarang isinya daging semua, menghormati lawan bicara. Itu semua keterampilan yang bisa dipelajari. Tugas kita sebagai pendidik menyuntikkan semua ini. Kalau tidak kita mulai dari sekarang terus kapan lagi?

Sudah saatnya murid-murid ini menjadi bagian dari dunia global. Sekarang saja sudah tampak bahwa lapangan kerja yang ada menuntut kolaborasi tidak hanya dari dalam negeri saja tetapi menembus batas ruang dan waktu. Murid-murid dengan keterampilan berkolaborasi yang baik tentu akan survive di zamannya. Keterampilan berpikir kritis dan kreativitas sangat mendukung bagi keberhasilan seseorang yang hidup di era disruptif seperti saat ini. Itulah beberapa alasan mengapa PBL penting karena di dalamnya murid-murid bisa berkolaborasi, berpikir kritis untuk menciptakan kreativitas dan menyuguhkannya dengan cantik baik melalui tulisan dan mempresentasikannya dengan manis. Semoga kita bisa memberikan bekal yang cukup bagi mereka untuk hidup di zamannya.

Demikian hasil mengintip saya tadi malam. Semoga kita semua bisa mengikuti perubahan yang ada. Mudah beradaptasi dan agile. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Mari bergerak menuju perubahan yang lebih baik. Semoga bermanfaat.

 

Sidoarjo, 22 Oktober 2021

21 Replies to “Mengintip Kurikulum Paradigma Baru”

  1. Luar biasa ulasannya, Bu. Bahasanya bagus, saya mudah mahami apa yang Ibu sampaikan.
    Masa depan miluk para peserta didik, guru yang menjadi bagian yang akan menyiapkan harus mau menghadapi perubahan.

  2. Terimakasih sudah dishare hasil refleksi nya dan intipannya. Sangat membantu memahami arah perubahan pendidikan yang sedang terjadi.

    Izin share nggih lewat FB dan blog saya.
    Terimakasih sebelumnya.
    Salam literasi

  3. Saya melihat bahwa:
    1. “Ide” Kurikulum Paradigma Baru (KPB) jauh lebih baik dibanding K13.
    2. KPB yang lebih berorientasi pada Standar Isi (Konten Ilmu Pengetahuan) penerapannya akan lebih bersifat fleksibel terutama jika KPB menekankan implementasi atau mengintegrasikan STEM atau STEAM dalam kurikulum.
    3. Integrasi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap merupakan keharusan jika kita ingin menerapkan pembelajaran yang benar untuk menguasai konten pengetahuan.
    4. Perlu diingat bahwa PBL bukanlah satu-satunya cara untuk mengembang communication skill, collaboration, crtical thingking, dan creativity (21th century skills).
    5. Jika kita mau menerapkan Ketrampian Proses secara konsisten dan memahami indikator setiap ketrampilan proses dalam pembelajaran maka sangat dimungkinkan ketrampian2 abat 21 dapat dicapai dengan baik secara efisien dan efektif.

    “Selamat dengan KPB”
    Pesan saya, janganlah yang mudah dibuat sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.