Jangan Takut Menulis

source: QutesGram

Sebagian orang menganggap menulis itu menakutkan. Takut tidak bisa menulis. Takut tulisannya jelek. Takut digunjing di belakang karena tulisannya jelek. Takut ditertawakan. Takut tidak bisa memulai tulisan karena tidak ada ide. Kalau sudah bisa memulai takut tidak bisa mengakiri tulisan.  Dan takut-takut yang lain.

Sebenarnya sah-sah saja orang bersikap demikian. Barangkali karena budaya tutur atau lisan kita lebih mendominasi dibanding budaya tulis. Kita lebih senang berbicara. Tidak ada yang salah dengan budaya tutur namun kalau kita menggenapinya dengan budaya tulis alangkah eloknya. Ingatan manusia sangat terbatas. Ilmu yang kita dapat hari ini belum tentu kita ingat keesokan hari. Maka ikatlah ilmu dengan tulisan, begitu kata Ali bin Abi Thalib berabad silam.

Tulisan itu bentuk legacy-warisan yang sangat berharga bagi anak cucu kita. Bisa jadi kita wafat sebelum bertemu mereka. Andai kita menulis, mereka akan mengenal kita, karya-karya kita. Jika tulisan kita bergizi, kita sudah memberi hadiah bagi jiwa mereka. Okelah kita tidak hadir secara fisik tapi pikiran-pikiran baik kita mewarnai jiwa mereka. Bukankah itu menjadi amal jariah yang tidak putus dimakan usia?

Kawan, saya beri tahu ya. Untuk memulai tulisan sebenarnya sederhana saja. Menulislah. Percayalah tidak ada resep atau tips jitu lain selain itu. Langkah pertama ya… menulis itu sendiri. Kalau sulit memulainya ya…coba mulai saja dulu. Apa yang ada dalam pikiran kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Jangan diedit-edit dulu. Biarkan dia mengalir. Kalau sebentar-sebentar diedit nanti nggak bakalan selesai. Apalagi jika Anda tipe perfeksionis.

Ada juga yang senang menggunakan outline sebelum menulis. Persis ketika hendak memberikan sambutan misalnya. Kita gunakan outline. Intinya sama. Bedanya yang satu menggunakan mulut yang lain menggunakan jari jemari. Sesederhana itu. Outline ini sebagai pengarah tulisan agar tulisan lebih tertata dan tidak ke mana-mana. Kalau menulis pengalaman sehari-harinya  sepertinya tanpa outline pun bisa.

Nanti kalau hasilnya jelek gimana? Pertanyaan itu sering saya dengar. Ya nggak apa-apa jelek, kan baru belajar menulis. Kalau belum pernah menulis kemudian tulisannya bagus kan nggak sopan? Kasihan dong yang sudah lama menulis tapi tulisannya belum berkembang. Hahaha….

Ada juga sih yang pertama kali nulis dan tulisannya cetar membahana. Tapi nggak banyak yang seperti itu. Umumnya penulis awal ya jelek dulu. Hahaha… Maaf ya saya sedang bercanda itu. Sekadar memotivasi kawan yang nggak pede dengan tulisannya. Bagus jelek itu kan relatif. Yang pasti ketika sudah menulis kualitas tulisan kita lebih bagus dibanding dengan yang belum menulis. Ya kan? One step ahead  lah. Tidak perlu takut atau khawatir kalau tulisan kita jelek.

Menulis itu keterampilan. Semakin sering berlatih semakin terampil. Sedikit demi sedikit kita belajar menulis yang baik secara simultan. Artinya, ayo kita menulis dan di saat yang sama kita belajar tentang menulis yang baik.  Dengan demikian tulisan kita akan berkembang. Satu lagi dan ini penting. Rakuslah membaca karena membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang logam yang tak terpisahkan.

Ada tips dari para penulis yang bisa kita aplikasikan. Gunakan kalimat-kalimat pendek agar pembaca tidak lelah. Mengapa demikian? Karena membaca tulisan berbeda dengan berbicara. Saat berbicara, kita bisa menyaksikan body language, mimik muka lawan bicara sehingga sedikit terhibur jika dia nyerocos tidak karuan. Kalau tulisan? Bikin lelah mata. Jadinya malas melanjutkan membaca.

Tunggu apa lagi? Ayo menulislah. Biarkan dia mengalir dan cueklah dengan komentar orang. Nanti ada saatnya kok kapan kita harus mendengar komentar mereka. Jangan takut menulis. Kalau masih takut juga,  sini saya temani. Hehehe….

 

Sidoarjo, 9 Oktober 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published.