Hybrid Learning

Pekan-pekan ini sekolah di berbagai daerah sedang sibuk melakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. Disebut terbatas karena hanya mendatangkan 50% siswa dalam satu kelas. Pekan sebelumnya 25% dari jumlah anak di kelas.  Model pembelajaran yang digunakan hybrid learning. Artinya, guru mengajar di depan separo jumlah anak di kelas secara langsung (on-site) dan separo lainnya melalui video conference (online) pada saat yang sama.

Bersyukurlah guru-guru yang melakoni ini karena kita banyak belajar hal-hal baru. Sesuatu yang baru selalu menarik untuk dikaji. Bahasa sederhananya diceritakan. Dulu, saat awal pandemi kita belajar bagaimana mengajar secara online. Mendadak daring. Kita pun tergagap-gagap.

Seiring perjalanan waktu ternyata banyak sekali keterampilan baru yang kita kuasai gegara mengajar online ini. Sebut misalnya mengoperasikan zoom dan jeroannya, google classroom, google meet. Membuat tugas melalui berbagai macam form online. Mengenal jamboard, paddlet. Bermain-main dengan Kahoot, Quizizz, Quizlet, dan sejenisnya. Beberapa  di antaranya free, beberapa lainnya berbayar. Biasanya sih kita suka yang free… hehehe.

Kalau dulu kita mengenal Powerpoint sebagai satu-satunya media untuk presentasi, sekarang sudah mengenal aplikasi lain seperti Slides, Google slide, Prezi, Canva, Flowvela, dan sejenisnya. Kita kenal canva untuk membuat poster di samping photoshop yang menurut saya agak ribet. (Karena saya tidak menguasainya)

Di masa transisi menuju era normal baru ini kita juga belajar kembali. Salah satunya pembelajaran model hybrid ini. Apa bedanya hybrid learning dan blended learning. Dari beberapa literatur yang saya baca, model hybrid ini gampangnya seperti ini. Guru mengajar dengan dua model pada waktu yang bersamaan. Sebagian murid online melalui video conference sebagian on-site, di kelas. Jadi, muridnya berbeda. Saat kita mengajar, ada kamera merekam kita dan menampilkannya di Zoom. Murid-murid yang ada di rumah diharapkan mendapatkan pengalaman belajar yang sama dengan teman-temannya yang sedang belajar di sekolah.

Kalau blended learning guru mengajar murid yang sama. Di satu waktu mereka bertemu offline dilanjut penugasan secara online. Menurut saya, blended itu jauh lebih mudah karena yang dihadapi satu. Jadi bisa fokus.

Berbeda dengan hybrid.  Karena pada saat yang sama kita harus mengelola dua kelas di tempat yang berbeda kita harus membagi perhatian. Itu yang saya alami tadi pagi. Terus terang saya bingung. Di satu sisi harus mengajar murid di kelas sementara di sisi lain, sebagian murid belajar di zoom. Untungnya, saya tidak sendiri. Ternyata teman-teman guru yang lain juga merasakan hal yang sama. Kok tahu? Ya… saya kan suka bertanya.

Di ruang guru kami merefleksikan pembelajaran hari ini. Bagaimana perasaan mengajar pertama hybrid dan bingung menjadi salah satu jawaban. Karena mendua tadi. Ada lagi yang suaranya sampai menembus tembok kelas tetangga. Alasannya takut murid-murid yang di Zoom tidak mendengar. Karena ada dua kelas PTM yang dilakoninya dengan semangat membara dan tentu saja tetap menjaga protokol alias bermasker ganda ketika sampai di rumah ia mengaku klenger… capek pool. Hahaha… Ada yang keren. Membeli pen tablet karena tulisan di papan tulis tidak jelas terbaca.

Kejadian-kejadian tersebut menjadi sebuah evaluasi tersendiri di pihak manajemen.  Tentu butuh sarana yang mendukung agar pembelajaran lancar. Jaringan internet, LCD, webcam dengan kualitas yang baik sehingga mampu menyorot tulisan di papan tulis dengan sempurna. Jangan lupa tripodnya, konektor HDMI, microphone yang membantu guru berbicara karena ternyata berbicara dengan bermasker ganda sangat tidak nyaman.

Alhamdulillah para pimpinan sigap. Mengumpulkan tim pengembang sekolah dan melakukan hearing tadi.  Semoga segala kendala bukan menjadi kendala melainkan menjadi tantangan bagi guru dalam memberikan layanan terbaik pada murid.  Dari evaluasi tadi saya mencatat beberapa hal di antaranya akses internet sangat mencukupi, ruangan masih memadai, ada ruangan cadangan yang bisa digunakan guru non wali kelas saat PTM, pengadaan sarana seperti web cam berkualitas diupayakan, dan hal-hal positif lainnya.  Semuanya demi memberikan layanan prima pada murid.

Oya, karena bingungnya membagi perhatian saat mengajar saya sampai lupa tidak me-record pembelajaran saya. Padahal saya ingin menyertakan di tulisan ini. Saya menyadarinya sesaat setelah pembelajaran usai. Ada seorang murid mengirim pesan WA ke saya. Katanya ia kurang jelas materi pembelajaran hari ini. Ustazah nggak kayak biasanya. Wadaw… ia pandai membaca gurunya.

Video yang menyertai tulisan ini adalah keisengan saya merekam teman-teman guru yang sedang PTM kemarin. Salah satunya yang klenger tadi…..wkwkwk…

Begitulah gambaran hybrid learning di SMP Al Hikmah Surabaya. Layanan pada murid menjadi hal yang utama.

 

Sidoarjo, 14 Oktober 2021

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.