DEAR, Drop Everything And Learn

Beberapa tahun silam sebelum Gerakan Literasi Sekolah semarak saya pernah melaksanakan praktik-praktik literasi terkait pembelajaran bahasa Inggris dalam bungkus Extensive Reading (ER). ER ini berbeda dengan Intensive Reading (IR).

IR adalah apa yang biasa kita lakukan di ruang kelas. Guru memberikan bacaan yang sama pada murid. Mereka wajib membaca teks yang sama dan mengerjakan latihan-latihan soal yang mengiringinya. ER sebaliknya. Guru memberikan bacaan yang berbeda pada murid sehingga mereka membaca teks yang berbeda. Mereka membacanya di luar jam pembelajaran. Bisa pada saat istirahat, saat menunggu jemputan, saat rehat di rumah, dalam perjalanan, dan kesempatan-kesempatan lainnya. Mereka bisa memilih bacaan yang mereka senangi sehingga membaca benar-benar menjadi aktivitas yang menyenangkan. Reading for pleasure.

Saat mengikuti Pendidikan Guru Penggerak ini saya baru paham bahwa apa yang saya lakukan tersebut sudah mengamalkan apa yang disebut dengan pembelajaran berdiferensiasi. Sebuah konsep pembelajaran yang berpihak pada keragaman murid. Baik itu dari sisi minat, kesiapan belajar maupun profil belajar mereka.

Karena itulah ketika kembali mengajar saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya menggulirkan program yang bagi pecinta ER pasti mengenalnya, DEAR. DEAR kependekan dari Drop Everything And Read. Program ini saya modifikasi sedemikian rupa sehingga mengakomodir pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional. Saya menerapkannya di dua kelas internasional yang saya ampu.

Untuk melihat perbedaan minat dan profil belajar, saya tinggal menggulirkan angket. Saya tanyakan buku apa yang menjadi interest mereka. Apakah mereka lebih menyukai gambar, suara, atau aktivitas tertentu sehingga saya bisa mengkategorikan apakah mereka condong ke visual, auditori, atau kinestetik.

Untuk melihat perbedaan kesiapan belajar, saya minta murid-murid melakukan placement test membaca. Dulu, saya pernah tergabung dengan Extensive Reading Fondation di Jepang. Saya membuat akun guru di sana. Saya bisa memanfaatkan fasilitas ini untuk melihat reading level murid-murid saya. Ini alamatnya jika teman-teman guru berminat. https://erfpt.ealps.shinshu-u.ac.jp/. Silakan dipelajari.

Tes ini menunjukkan reading level mereka. Hal ini menjadi penting karena buku yang mereka baca harus sesuai dengan level mereka. Bahkan boleh jadi satu level di bawahnya sehingga memudahkan memahami isi bacaannya. Oya, buku yang mereka baca namanya Graded Readers, buku bacaan bertingkat.

Kemudian saya melakukan sosialisasi. Menunjukkan betapa pentingnya membaca dan menulis dalam kehidupan. Saya tunjukkan tokoh-tokoh besar yang terinspirasi hidupnya hanya dari buku yang dibacanya. Setelah itu saya minta mereka meminjam buku di perpustakaan dan membaca dalam kurun waktu tertentu dan meminta mereka melaporkan apa yang sudah mereka baca. Insight apa yang mereka dapatkan saat menikmati kalimat demi kalimat dalam buku tersebut.

Kalau ditanya bagaimana perasaan saya menjalankan aksi nyata ini ya nano nano jawabnya. Mengapa demikian? Ternyata program yang saya lakukan tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Pandemi ini salah satu penyebabnya. Saya merasa kesulitan memobilisasi mereka meminjam buku. Ada saja alasannya sehingga butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan satu periode peminjaman. Kalau kondisi normal tentu saja saya akan membawa mereka ke perpustakaan. Memilih buku sesuai minat dan levelnya, meminjamnya dan membiarkan waktu  yang tersisa untuk membaca. Nah, karena kondisi tidak normal saya butuh effort yang keras untuk ini. Untunglah saya dibantu rekan guru, wali kelas, dan pustakawan.

Saya menemukan beberapa hal yang rupanya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini. Meskipun sekolah sudah melayani peminjaman online, ternyata efeknya juga tidak seberapa bagus. Akhirnya saya beralih agar-agar murid-murid bisa memanfaatkan layanan online graded readers yang bisa mereka baca dan unduh secara gratis . Alamatnya di sini, https://erfoundation.org/wordpress/free-books-for-you-and-your-students/ atau di sini, https://freegradedreaders.com/wordpress/.

Untuk mengakomodir profil belajar murid yang auditori saya sarankan mereka mendengarkan dari audio books yang juga bisa mereka dapatkan secara gratis. Salah satunya di sini,  https://www.gutenberg.org/. Almarhum suami mengenalkan situs ini pada saya beberapa tahun silam. Kadang-kadang saya putar salah satu audio books itu untuk menemani saya memasak di pagi hari. Kalau mau yang klasik silakan menuju ke https://freeclassicaudiobooks.com/audiobooks/.

Ada lagi di sini,  https://www.eligradedreaders.com/en/free-eli-readers/english-elt.html. Namun file buku yang diinginkan harus diunduh dengan aplikasi khusus-ELI Link App- yang ada di play store. Ada versi audio books dan video.

Setelah hampir sebulan, saya meminta report murid-murid saya. Rata-rata mereka senang dengan kegiatan ini karena mereka bisa membaca buku sesuai dengan minat mereka. Saya meminta mereka menceritakan apa yang telah mereka baca, insight apa yang mereka dapatkan, bagian yang menarik dari buku tersebut dan apakah mereka akan merekomendasikan buku tersebut agar dibaca temannya.

Up and down pokoknya. Sekarang DEAR memasuki periode kedua. Saya mengambil tema Famous People. Semoga ke depannya akan lebih baik lagi. Saya menerapkan diferensiasi produk dalam periode ini. Artinya, murid-murid bisa menceritakan isi buku yang dibacanya tidak hanya dalam bentuk karangan saja tetapi juga poster, flyer, podcast atau video. Insya Allah saya akan menulis tentang ini nanti.

 

Sidoarjo, 31 Oktober 2021

2 Replies to “DEAR, Drop Everything And Learn”

Leave a Reply

Your email address will not be published.