DEAR, Drop Everything And Learn

Beberapa tahun silam sebelum Gerakan Literasi Sekolah semarak saya pernah melaksanakan praktik-praktik literasi terkait pembelajaran bahasa Inggris dalam bungkus Extensive Reading (ER). ER ini berbeda dengan Intensive Reading (IR).

IR adalah apa yang biasa kita lakukan di ruang kelas. Guru memberikan bacaan yang sama pada murid. Mereka wajib membaca teks yang sama dan mengerjakan latihan-latihan soal yang mengiringinya. ER sebaliknya. Guru memberikan bacaan yang berbeda pada murid sehingga mereka membaca teks yang berbeda. Mereka membacanya di luar jam pembelajaran. Bisa pada saat istirahat, saat menunggu jemputan, saat rehat di rumah, dalam perjalanan, dan kesempatan-kesempatan lainnya. Mereka bisa memilih bacaan yang mereka senangi sehingga membaca benar-benar menjadi aktivitas yang menyenangkan. Reading for pleasure. Continue reading “DEAR, Drop Everything And Learn”

Mengintip Kurikulum Paradigma Baru

CP, TP, dan ATP

Beberapa waktu yang lalu seorang teman penerbit menawari saya bergabung menulis buku ajar berdasarkan Kurikulum Sekolah Penggerak (KSP) untuk mengikuti penilaian. Beliau memberi saya beberapa file terkait KSP. Di saat yang sama, di grup  Whatssap Guru Penggerak kelompok saya terjadi diskusi hangat tentang KSP ini. Pengajar Praktik saya-Pak Mifta Churohman– membagikan beberapa file yang melengkapi file-file yang saya terima dari teman penerbit di atas.

Dalam diskusi tersebut, fasilitator saya– Ibu Anastasia Moertodjo–mengatakan sekolah yang lolos sebagai sekolah penggerak memang menerapkan kurikulum ini. Bahkan di tahun-tahun mendatang akan diberlakukan sebagai kurikulum baru. Belum ada namanya sih tapi untuk sementara diberi nama Kurikulum Paradigma Baru. Semakin penasaran saya. Continue reading “Mengintip Kurikulum Paradigma Baru”

Assalamualaikum Sayang

Assalamualaikum sayang

Kubawakan kau seikat kembang

sebagai perlambang

cinta ini tak pernah hilang

 

Kukirim padamu setangkup rindu

Kutiupkan pada butiran debu

Manja menggayut di nisanmu

 

Kubisik lirih selaksa kasih

Menyamudera di dalam diri

Percayalah, dirimu takkan tersisih

 

Kuhadiahi kau sebongkah cinta

Nan bergemuruh di dada

Menyatu di batas usia

 

Kurapalkan berbuncah doa

Melangit, berharap tak pernah alpa

Sebagaimana kaupinta

di ujung usia:

 

Doakan aku selalu ya Mik…

 

Assalamualaikum sayang

Kutinggalkan dirimu

Bersama lautan rindu

Yang harus kucumbu sepanjang waktu

 

Sidoarjo, 20 Oktober 2021

Generation Global

Flyer 10th Anniversary of Generation Global

Sebelumnya saya sampaikan terima kasih yang dalam pada teman kuliah S1 saya- Ilmi Kharisah yang telah mengenalkan pada Generation Global (GG). Ceritanya, awal merintis kelas internasional saya menghubungi beberapa teman yang pernah tampak berkegiatan bertaraf internasional. Maksud tampak di sini adalah saya pernah menyaksikan foto-foto mereka atau mendiskusikan program-program sekolah di grup komunitas. Yang paling gampang yaa.. yang ada foreigner-nya gitu karena salah satu tujuan kelas internasional di SMP Al Hikmah adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya pada murid untuk  berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Selain itu juga terhubung dengan teman-teman mereka di seluruh penjuru dunia. Ah…alangkah senangnya. Continue reading “Generation Global”

Hybrid Learning

Pekan-pekan ini sekolah di berbagai daerah sedang sibuk melakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. Disebut terbatas karena hanya mendatangkan 50% siswa dalam satu kelas. Pekan sebelumnya 25% dari jumlah anak di kelas.  Model pembelajaran yang digunakan hybrid learning. Artinya, guru mengajar di depan separo jumlah anak di kelas secara langsung (on-site) dan separo lainnya melalui video conference (online) pada saat yang sama.

Bersyukurlah guru-guru yang melakoni ini karena kita banyak belajar hal-hal baru. Sesuatu yang baru selalu menarik untuk dikaji. Bahasa sederhananya diceritakan. Dulu, saat awal pandemi kita belajar bagaimana mengajar secara online. Mendadak daring. Kita pun tergagap-gagap. Continue reading “Hybrid Learning”

Jangan Takut Menulis

source: QutesGram

Sebagian orang menganggap menulis itu menakutkan. Takut tidak bisa menulis. Takut tulisannya jelek. Takut digunjing di belakang karena tulisannya jelek. Takut ditertawakan. Takut tidak bisa memulai tulisan karena tidak ada ide. Kalau sudah bisa memulai takut tidak bisa mengakiri tulisan.  Dan takut-takut yang lain.

Sebenarnya sah-sah saja orang bersikap demikian. Barangkali karena budaya tutur atau lisan kita lebih mendominasi dibanding budaya tulis. Kita lebih senang berbicara. Tidak ada yang salah dengan budaya tutur namun kalau kita menggenapinya dengan budaya tulis alangkah eloknya. Ingatan manusia sangat terbatas. Ilmu yang kita dapat hari ini belum tentu kita ingat keesokan hari. Maka ikatlah ilmu dengan tulisan, begitu kata Ali bin Abi Thalib berabad silam. Continue reading “Jangan Takut Menulis”