Kekuatan Teman Sejawat

Saya bersama teman sejawat CGP Angkatan 2 Surabaya dan Pengajar Praktik

Satu hal yang saya pelajari dari Lokakarya 5 Pendidikan Guru Penggerak (PGP) hari ini adalah kekuatan teman sejawat. Jadi, Calon Guru Penggerak (CGP) ini diminta menuliskan hal-hal apa yang berkembang setelah mengikuti PGP selama 6 bulan ini. Jawaban sangat beragam. Ada yang menuliskan pengembangan pembelajaran, keaktifan dalam komunitas praktisi, keterampilan coaching, kemampuan mengelola aset sekolah, dan lainnya.

Yang menarik adalah ketika ditanya faktor pendukung apa yang paling berpengaruh dalam berkembangnya kemampuan CGP ini. Mayoritas menjawab teman sejawat. Hal ini  sangat beralasan  mengingat CGP tidak bisa bekerja sendiri baik ketika dalam pendidikan maupun aplikasinya di sekolah. Continue reading “Kekuatan Teman Sejawat”

Asset Based Community Development (ABCD)

Judul tulisan ini kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Pengembangan Komunitas berbasis Aset. Gagasan tersebut dicetuskan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann– pendiri ABCD Institute di Northwestern University. Pemikiran tersebut muncul sebagai kritik atas pemikiran tradisional yang menekankan pada masalah, kekurangan, dan kebutuhan dalam sebuah komunitas. Bahasa kerennya Deficit Based Community Development (DBCD). Dengan bahasa sederhana bisa dikatakan komunitas sebagai penerima bantuan. Karena menerima bantuan, otomatis komunitas tersebut tidak berdaya, pasif, dan bergantung pada orang lain.

Sebaliknya, ABCD menciptakan komunitas yang berdaya, aktif, mandiri, dan produktif. Komunitas ini melihat semua aset yang mereka miliki untuk menyelesaikan tantangan yang mereka hadapi. Modalnya apa? Kekuatan positif dan potensi yang ada dalam diri mereka sendiri. Dengan demikian, hasil yang diharapkan akan lebih optimal.

Sekolah sebagai komunitas bisa memetakan kekuatan positif, aset atau modal utama dalam menjawab permasalahan yang ada. Kalau sebelumnya menggunakan pendekatan berbasis masalah sekarang sudah saatnya melalui pendekatan aset, modal atau kekuatan positif yang ada. Continue reading “Asset Based Community Development (ABCD)”

Berpikir Berbasis Aset

Gelas ini setengah penuh atau setengah kosong? (gambar: wikipedia)

Kata “aset” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti modal atau kekayaan. Kekayaan adalah segala yang kita punya. Tidak harus  berbentuk uang dan harta berharga lainnya. Fisik kita,  pikiran, kesehatan, pendidikan, agama, dan lainnya.

Kalau Anda mengikuti sinetron Keluarga Cemara di tahun 90-an pasti masih ingat soundtrack-nya.  Menurut Abah dan Emak harta yang paling berharga adalah keluarga. Keluarga Cemara ini pernah hidup berkecukupan di Jakarta hingga suatu ketika hartanya ludes. Mereka harus meninggalkan kenyamanannya. Beradaptasi dengan kehidupan baru yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Justru di sinilah mereka menemukan makna harta sesungguhnya yaitu keluarga.

Bung Hatta  lain lagi. Salah satu harta berharganya adalah buku. Saat diasingkan ke Boven Digul, ia membawa serta 16 peti berisi buku. Satu petinya bervolume  ¼ meter kubik. Jadi, total ada 4 meter kubik. Tulis Bung Hatta dalam memoarnya. Untuk memasukkan buku-buku tersebut ke dalam peti besinya saja membutuhkan waktu tiga hari. Sementara untuk pakaian, beliau hanya membawa 1 koper. Buku-buku itulah kekayaannya. Meskipun tubuhnya terpenjara Bung Hatta merasa merdeka karena pikirannya tidak terkungkung. Bung Hatta fokus pada aset yang dimilikinya—buku, kebebasan jiwa—dibanding dengan harta yang tak dimilikinya, kebebasan tubuh karena terpenjara. Continue reading “Berpikir Berbasis Aset”

Belajar Mengambil Keputusan

Wawancara dengan teman sejawat terkait pengambilan keputusan kasus Bu Tati

 

Ki Hajar Dewantara (KHD) mencetuskan azas pendidikan yang kita kenal dengan Patrap Triloka ketika mendirikan Perguruan Taman Siswa. Tiga semboyan yang sangat akrab di telinga kita. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru bisa mengacu pada Patrap Triloka tersebut dalam mengambil keputusan.

Ing ngarsa sung tuladha– di depan memberi contoh. Ketika kita mengambil sebuah keputusan harus benar-benar mempertimbangkan agar keputusan tersebut tepat sasaran, fokus pada tujuan. Dengan demikian, murid bisa melihat kita sebagai role model di kelasnya. Seorang decision maker andal.

Ing madya mangun karsa berarti ketika kita berada di tengah-tengah murid harus mampu membangun kekuatan, potensi yang ada dalam diri mereka. Segala keputusan yang kita ambil harus berpihak pada murid. Bagaimana keputusan tersebut mampu mengulik setiap potensi murid yang masih terpendam. Guru harus cerdas, kreatif, inovatif  agar mampu memendarkan ide dan gagasannya dalam mengembangkan murid.

Tut wuri handayani artinya di belakang memberikan dorongan. Keputusan-keputusan yang kita ambil hendaknya mampu mendorong kepercayaan diri murid, potensi berkembang murid sehingga mereka merdeka melangkah. Tentu saja kemerdekaan yang kita berikan juga harus diiringi oleh tanggung jawab. Continue reading “Belajar Mengambil Keputusan”

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Tandem presentasi Guru Penggerak dan Sekolah Penggerak bersama Ustad Edy Kuntjoro-Kepala SMA Al Hikmah Boarding School Batu

Tergabung dalam Pendidikan Guru Penggerak (PGP) merupakan berkah bagi saya. Banyak hal baru yang saya dapatkan baik ilmu maupun pertemanan. Ilmu ini sangat penting bagi saya sebagai guru yang haus pengembangan diri. Guru harus belajar, belajar, belajar baru mengajar. Pertemanan juga sangat penting karena guru-guru yang terhubung bisa saling menguatkan, berbagi informasi dan praktik-praktik baik yang telah dilakukan yang sekiranya bisa diadopsi untuk menyukseskan pendidikan. Setidaknya di ruang kelasnya. Continue reading “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran”

Dilema Etika vs Bujukan Moral (2)

Kemarin sudah saya tuliskan 4 paradigma yang bisa dipakai jika menghadapi dilema etika. Selain menggunakan paradigma-paradigma yang ada, ada yang namanya 3 prinsip pengambilan keputusan.

Pertama, berpikir berbasis hasil akhir (end-based thinking). Artinya, keputusan yang diambil untuk kebaikan orang banyak. Kedua, berpikir berbasis peraturan (rule-based thinking). Keputusan yang diambil sudah sesuai dengan aturan atau tugas yang dibebankan dan ketiga berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking).

Setelah itu baru keputusan yang telah diambil tadi dicek kembali berdasarkan 9 langkah pengecekan. Seperti apa itu? Continue reading “Dilema Etika vs Bujukan Moral (2)”

Dilema Etika vs Bujukan Moral (1)

source: https://unsplash.com/photos/TW_dKLcR8s4

Pekan ini kami belajar mengambil keputusan. Ini hal yang baru lagi bagi saya. Ternyata mengambil keputusan yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan itu ada ilmunya. Pernah kan kita berada dalam posisi bingung dalam menentukan sebuah keputusan? Nah ternyata kebingungan itu mengarahnya ke dua keadaan yaitu dilema etika dan bujukan moral?

Makanan apa lagi tuh? Continue reading “Dilema Etika vs Bujukan Moral (1)”

Coaching dan Pendidikan yang Berpihak pada Murid

Dulu saya beranggapan bahwa coaching itu hanya ada di dunia olah raga. Kata itu mengacu pada pelatih. Coach Christian Hadinata misalnya. Pelatih bulu tangkis kenamaan yang mampu mengantarkan Indonesia meraih Piala Thomas 1998 dan dua emas di ajang olimpiade.

Seiring perjalanan waktu, coaching berevolusi merambah ke berbagai bidang. Sebut misalnya leadership, pengembangan diri, bisnis, dan karir. Eits, tunggu dulu. Ternyata saya juga pernah  dipanggil coach saat memberikan pelatihan menulis amatiran pada emak-emak. Kalau ingat itu saya jadi tersenyum sendiri.

Tapi memang benar. Coach dibutuhkan dalam berbagai bidang. Tak terkecuali bidang pendidikan. Anak-anak butuh coaching agar melejitkan potensi yang ada dalam diri mereka, agar mereka mampu menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi dengan cara mereka sendiri. Guru hanya membantu mengulik kompetensi mereka yang tersembunyi. Dengan demikian, anak bisa mengoptimalkan potensi untuk mencapai kesuksesan. Menjadi well-being students.

Tak heran jika dalam sebuah  forum berbagi inspirasi TedTalk, Bill Gates berkata, “ Everyone needs a Coach. It doesn’t matter whether you’re a basketball player, a tennis player, a gymnast or a bridge player. We all need people who will give us feedback, that’s how we improve.”

Setiap orang membutuhkan coach, orang yang memberi masukan yang akan membuat hidupnya menjadi lebih baik. Hal ini tentu saja sesuai dengan definisi coaching itu sendiri. International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.

Dengan bahasa sederhana bisa dikatakan coaching membantu coachee menemukan hal-hal positif dalam dirinya dan mengembangkannya sehingga menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau kita seorang guru tentu coachee kita adalah murid. Hal ini senada dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.  Apalagi setiap murid itu unik sehingga mereka berhak mendapat layanan pendidikan yang sesuai dengan minatnya, tingkat kesiapan, dan profil belajarnya. Di sinilah pendidikan berdiferensiasi mendapat tempatnya.

Selain murid, bisa jadi coachee kita adalah guru atau rekan sejawat. Rekan-rekan guru adalah teman seperjuangan. Namanya berjuang tentu ada masa-masa menyenangkan atau sebaliknya. Perjalanan tidak selalu mulus, bukan. Guru dituntut paham betul tidak saja konten-konten akademik tetapi juga sisi-sisi sosial emosional agar mampu menumbuhkan karakter unggul murid. Tidak saja cerdas secara akademik tetapi juga santun secara moral sehingga mereka menjadi well-being students. Nah, guru-guru ini pun butuh coach untuk mendapatkan feed back agar pembelajaran yang dilakukan benar-benar berdampak pada murid sehingga pendidikan benar-benar berpihak pada murid.

Pertanyaannya, bisakah guru menjadi coach?

Sangat bisa. Coaching adalah keterampilan yang bisa dipelajari. Dunia guru sangat dekat dengan dunia belajar maka tidak ada alasan bagi guru untuk tidak bisa menjadi coach. Belajar untuk kemudian menerapkannya dalam dunia nyata. Intinya, tidak berhenti pada tataran teori tapi dipraktikkan. Bahasa kerennya sih experiental learning, pembelajaran berbasis pengalaman. Seperti yang sedang dilakukan di Pendidikan Guru Penggerak. Guru belajar kemudian mempraktikkannya di lapangan, mengevaluasinya sedemikian rupa. Yang bagus ditingkatkan,  yang kurang dicarikan solusinya. Begitu siklusnya. Semakin sering berlatih, semakin terampil tentunya.

Keterampilan berkomunikasi menjadi hal yang penting dalam coaching. Bagaimana seorang coach menanyakan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang mampu menggugah coachee untuk menemukan potensi diri yang terpendam dan mengembangkan potensi diri tersebut sebaik-baiknya. Inilah komunikasi yang memberdayakan-empowering communication.

Komunikasi asertif, mendengar aktif, bertanya efektif, dan memberikan umpan balik positif adalah beberapa contoh komunikasi yang memberdayakan. Komunikasi asertif adalah komunikasi yang dibangun atas dasar percaya dan hormat. Bagaimana cara kita menyampaikan pesan kepada coachee dengan baik agar semua kepentingan terwadahi. Tidak agresif tapi juga tidak submisif. Intinya, bagaimana cara kita mencapai pemahaman bersama atas sebuah masalah. Mencapai sebuah keselarasan.

Mendengar aktif adalah kemampuan kita untuk mendengarkan lawan bicara kita dengan kesadaran penuh. Itulah mengapa seorang coach lebih banyak mendengar daripada berbicara. Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut sepertinya juga untuk kepentingan seperti ini. Lebih banyak mendengar orang lain agar muncul lebih banyak empati, lebih banyak menangkap pesan yang disampaikan.

Bertanya efektif sangat dibutuhkan dalam coaching karena akan membantu coachee menggali potensi dirinya. Tentunya pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan bukan pertanyaan tertutup melainkan pertanyaan yang mampu menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan ide dan gagasan yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya, dan menghadirkan emosi atau nilai-nilai positif dalam diri sehingga memampukan coachee mengembangkan diri lebih optimal lagi.

Keterampilan yang tidak kalah pentingnya dalam coaching adalah memberi umpan balik positif.  Umpan balik ini sangat dibutuhkan oleh coachee untuk membangun potensi yang dimilikinya, menumbuhkan rasa percaya diri dan memotivasinya untuk menjadi lebih baik lagi. Umpan balik positif ini harus diberikan langsung pada saat coaching, bentuknya harus spesifik-fokus pada hal yang dituju. Tak lupa coach harus menyertakan perasaan sepenuhnya saat memberikan umpan balik positif ini.

Coaching Model TIRTA

Coaching model TIRTA diadopsi dari Grow Model yang sudah banyak dikenal. GROW adalah kependekan dari Goal, Reality, Option, dan Will. Jadi, dalam sebuah sesi coaching harus ada goal atau tujuan yang ingin dicapai, reality (kenyataan yang terjadi pada diri coachee), option (pilihan-pilihan solusi yang muncul selama sesi coaching, dan will (keinginan untuk selalu bergerak menjadi lebih baik).

TIRTA sendiri adalah akronim dari Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, dan Tanggung Jawab. Senada dengan Grow di atas, dalam coaching model TIRTA juga dimulai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh coachee. Kemudian mengidentifikasi fakta-fakta yang terjadi dan dirasakan oleh coachee. Lalu, dari identifikasi ini muncullah rencana aksi yang dipikirkan coachee dan ditutup dengan komitmen yang merupakan bentuk tanggung jawab seorang coachee. Yang menjadi catatan adalah coach hanya membantu coachee mengeluarkan semua potensinya sehingga baik itu tujuan, identifikasi, rencana aksi dan komitmen semua berasal dari coachee. Keputusan terakhir ada di tangan coachee.

Mempraktikkan coaching model TIRTA ini tidak semudah membaca teorinya. Saya mencoba melakukan eksperimen terhadap 6 anak yang saya pilih secara random di kelas-kelas yang saya ajar. Ada yang saya harus menyerah karena tidak mampu mengulik apa yang sedang dihadapi coachee. Murid yang satu ini sangat pendiam. Sepanjang sesi coaching dia hanya diam, matanya menatap langit-langit. Saya pun kehabisan gaya. Hehehe…

Ada yang saya tidak bisa menikmati suasana coaching-nya karena terkendala jaringan. Sedang enak-enaknya mencoba mengidentifikasi hal-hal terkait coachee, internetnya nge-lag. Berkali-kali saya minta coachee mengulang pada beberapa bagian hingga akhirnya saya putuskan saya tidak berhasil.

Ada lagi yang saya terpaksa banting setir menjadi konselor karena murid ini ternyata memiliki masalah yang berat. Saya mengenalnya sebagai sosok yang sangat ceria dan cukup famous namun ternyata saya menemukan sisi lain dirinya yang rapuh. Dia tidak mampu menahan tangisnya dan tidak mampu berpikir jernih apa yang harus dilakukan. Saya harus memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapinya.

Video yang menyertai tulisan ini contoh coaching model TIRTA yang saya lakukan.  Dari keenam proses eksperimen coaching, video ini yang lebih mendekati ideal. Masih amatiran sih karena baru belajar namun saya yakin suatu saat saya akan mampu melakukannya lebih baik lagi.  Coaching membantu murid menemukan potensi dirinya dan mengembangkan diri menjadi lebih baik.

 

Sidoarjo, 5 September 2021