Salam Emak Penggerak

Para emak penggerak Divisi Perempuan Masjid Babusalam (Dokumen pribadi)

Ya Allah… sampaikanlah kami pada Ramadan di tahun ini. Semoga Ramadan tahun ini menjadi  Ramadan terbaik bagi kami. Aamiin.

Salah satu  hal yang saya rindukan selama bulan Ramadan adalah mengelola bakti sosial (baksos) bersama para sahabat di perumahan. Mereka adalah emak-emak penggerak. Kami tinggal di Jaya Maspion Permata, Gedangan. Kompleks perumahan yang tidak terlalu besar. Hanya terdiri dari dua blok, Alexandrite (A) dan Berryl (B). Blok A terdiri dari 6 RT. Blok B ada 5 RT. Masing-masing RT terdiri dari 40-50 Kepala keluarga. Jadi, bisa dikira-kira jumlah totalnya. Kami disatukan dengan adanya satu masjid. Babussalam. Sesuai namanya, semoga ia menjadi pintu keselamatan bagi kami. Masjid ini sebagai pusat kegiatan baik itu keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Salah satunya baksos Ramadan yang dikelola para emak penggerak. Continue reading “Salam Emak Penggerak”

Memasak dan Menulis

Rawon Pak Pangat yang maknyus… (Dokumen Pribadi)

Ada dua hal yang belum bisa saya lakukan sampai saat ini. Memasak dan menulis selain kenangan bersama almarhum Abi. Entahlah, sepeninggal beliau saya sangat enggan memasak. Padahal, memasak adalah hal yang tidak pernah absen saya lakukan selama ini. Bagi saya, memasak lebih dari sekadar kewajiban seorang istri dan ibu. Ia adalah perwujudan cinta. Apalagi jika hasil masakan habis sempurna alias ludes tak tersisa. Tanyalah pada semua ibu di dunia ini. Pasti ada kenikmatan tersendiri.

Dari sisi kesehatan, memasak sendiri tentu lebih terpercaya. Kita bisa memastikan kehalalan bahan,  kebersihan alat, higienisnya sebuah masakan. Pun dari kesehatan keuangan, memasak sendiri tentu lebih hemat. Apalagi a big family seperti keluarga saya. Kalau tidak memasak, tentu bisa dibayangkan berapa rupiah yang harus kami keluarkan hanya untuk urusan perut. Jadi, ditinjau dari berbagai sisi memasak benar-benar sebuah keharusan. It is a MUST. Continue reading “Memasak dan Menulis”

JKM, JHT, dan JPN

Lapak Asik onsite BPJS Ketenagakerjaan cabang Rungkut. Di meja dekat satpam itulah saya mengerjakan semuanya. (Dokumen pribadi)

Apa itu?

Hari ini saya akan berbagi pengalaman mengurus Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pensiun (JPN) di BPJS Ketenagakerjaan. Sebenarnya sebulan yang lalu saya sudah mengurus hal ini dengan Mbak Siti, HRD perusahaan Abi bekerja. Sayangnya, saat itu status almarhum Abi masih tercatat aktif. Sebenarnya  kantor Abi sudah menon-aktifkan status beliau per tanggal 10 Februari 2021. Kami ke sana tanggal 17 Februari 2021. Rupanya butuh waktu sebulan masa transisi sebelum peserta dinyatakan non aktif tersebut. Ada untungnya juga karena saya harus melengkapi berkas-berkas untuk mengurus beasiswa yang diberikan BPJS kepada dua anak. Saya butuh surat keterangan aktif sekolah/kuliah dan kartu pelajar/mahasiswa. Sulung saya sudah kuliah, adiknya kelas XII SMA.

Alhamdulilah semua berkas sudah siap, saya mengecek status Abi sudah non aktif. Ini ngeceknya di aplikasi BPJSTKU. Kalau Anda peserta BPJS dan belum mempunyai akun BPJSTKU, unduh saja aplikasinya di playstore, install, dan daftar baru. Aplikasi ini bermanfaat karena kita bisa tahu berapa saldo tabungan kita, simulasi perolehan JHT, antrian online, info program, dan sebagainya. Kalau kartu manual kita hilang kita tunjukkan saja kartu digital di aplikasi ini. Sangat membantu. Continue reading “JKM, JHT, dan JPN”

Buku dan Abi

Musashi dan Taiko, novel sejarah besutan Eiji Yoshikawa (dokumen pribadi)

Sebaik-baik teman duduk adalah buku (maqolah)

Almarhum Abi adalah pecinta buku. Mahasiswa saat itu banyak yang tergabung dalam kelompok-kelompok diskusi. Pun dengan Abi. Anggota kelompok ini tidak hanya mahasiswa sekampus tetapi bisa juga lain kampus. Bagi yang tertarik jurnalistik, mereka akan mengikatnya dengan cara menuliskannya setelah berdiskusi tadi. Ada yang membuat buletin, majalah dan koran kampus. Ada juga yang mampu menembus media masa lokal maupun nasional. Gagah rasanya. Bisa mengeskspresikan pendapat sekaligus menggaet pendapatan. Hehehe… Lumayan untuk kantong mahasiswa. Kolom mahasiswa Jawa Pos dulu memberi honor 50 ribu rupiah. Mungkin setara dengan 500 ribu sekarang. Continue reading “Buku dan Abi”

Rumah

Rumah baru kami. Foto diambil 28 Juli 2012. Sekarang full tanaman. Terima kasih Abi yang sudah memberi kami rumah yang luas dan penuh cinta. (dok. pribadi)

Home is where the heart is, kata Elvis Presley. Rumah adalah tempat di mana hati kita bersemayam. Hati setara dengan cinta, kebahagiaan, dan kenyamanan. Mengapa home bukan house? Bahasa kita menerjemahkan kedua kata tersebut dengan arti yang sama yaitu rumah. Sejatinya, makna keduanya sangat berbeda. House mengacu pada bangunan fisik sementara home adalah atmosfirnya, suasananya. Itulah mengapa ada istilah home sweet home bukan house sweet house. Go home bukan go house untuk menyatakan pulang. Hometown bukan housetown untuk menyatakan kampung halaman. Ya, karena ada something-nya. Sebut saja perasaan rindu, cinta yang nyaman.

Bisa jadi kita memiliki rumah yang besar–a big house-– tapi belum tentu menjadi a big home manakala atmosfir di dalamnya tidak cukup kondusif untuk tumbuhnya cinta. Sebaliknya,  meskipun kita tinggal di rumah tipe 21, masih ngontrak, atau ngekos sepetak misalnya tapi menjadi a very very big home karena cinta bisa kita sesap di setiap sudutnya. Baiti jannati.

Terima kasih Abi yang sudah memberi kami rumah yang luas dan penuh cinta. Continue reading “Rumah”

Rindu

A: Pagi Mbak.

B: Pagi.

A: Sesuai aplikasi  ya Mbak?

B: Ya Pak. Masjid Al Hikmah.

A: Ok. SMP atau SMA?

B: Bapak dari arah mana?

A: Ketintang Mbak.

B: Baik. Bapak masuk gerbang SMA, belok kiri. Ikuti jalur yang ada. Masjidnya ada di tengah-tengah kompleks SMP-SMA.

A: Siaap. Ditunggu ya.

B: Baik. Terima kasih.

Tidak sampai sepuluh menit ada notifikasi driver sudah sampai. Segera saya bergegas menuju masjid. Saya lihat seseorang berjaket dusty gray membawa tas kain kecil berwarna biru. Ah…tas bekal saya. Continue reading “Rindu”