Surat Keterangan Waris (1)

Setumpuk berkas yang saya harus saya urusi selain anak-anak, kantor, dan bunga. (dok.pri)

Saya tahu tidak mudah mengurus administrasi dengan kondisi saya saat ini. Pasti membutuhkan waktu, energi, dan pikiran. Bagi saya waktu bukanlah faktor terberat karena kerja di era pandemi  relatif lebih fleksibel. Apalagi Direktorat tempat saya bekerja memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi saya untuk menyelesaikan semua urusan pasca wafatnya Abi. Masalahnya ada pada energi terutama pikiran. Energi ini sumbernya dari pikiran. Saya sadar kalau pikiran saya positif, Insya Allah akan menghadirkan energi positif. Jadi, masalah terberat adalah menghadirkan pikiran positif.

Karena itulah saya benar-benar meminta pada Allah agar menjernihkan pikiran saya. Semoga Allah selalu memudahkan semua urusan saya. Saya niati ibadah. Ibadah seorang hamba yang ketiban sampur, estafet kepemimpinan Abi. Mau tidak mau saya harus mempertanggungjawabkan amanah berupa 4 malaikat yang tidak lagi kecil itu, anak-anak kami. Saya niati sebagai bentuk bakti saya pada almarhum suami. Saya sangat menyayanginya. Rasanya bakti saya selama beliau hidup belumlah cukup. Karenanya, saya akan terus menyambungnya meski ia telah tiada.

***

Setelah mendapat Akte Kematian Abi, Klampid menerbitkan Kartu Keluarga (KK) baru secara otomatis. KK itu atas nama saya sebagai kepala keluarga. Sejenak saya tertegun dibuatnya. Sudah tidak ada nama Fifkaindi. Saya menghela nafas panjang. Saya panggil anak-anak.

“Mbak, Mas, Dek,… lihat ini. KK ini sekarang atas nama Umik. Umik jadi kepala keluarga. Ayo, bantu Umik ya mewujudkan cita-cita kalian. Kita satu tim,” kata saya pada keempat anak saya sambil menunjukkan KK yang baru saja terprint. Tidak perlu ditanya bagaimana perasaan mereka. Yang pasti mereka tahu sekarang sayalah nahkoda kapal ini. Biidznillah, saya akan mengantarkan mereka menuju dermaganya masing-masing. Sebuah dermaga yang masih rahasia sekarang. Kelak kami akan menuju dermaga yang satu.

Akte Kematian sudah, legalisir KK Abi sudah, KK saya sudah. Target saya mengurus Surat Keterangan Waris. Surat ini inti dari semua dokumen yang akan saya urus kemudian. Asuransi jiwa, BPJS, menutup tabungan Abi, KPR rumah, haji,  dan sebagainya. Langkah pertama adalah menyiapkan segala persyaratan yang dibutuhkan.

Sesuai Perwali Nomor 63 tahun 2020, persyaratannya sebagai berikut: fotokopi KTP, KK, akte kematian pewaris, akte kematian ahli waris (jika ada ahli waris yang meninggal), buku nikah, akte kelahiran ahli waris, KTP, KK ahli waris, KTP dua orang saksi, surat pengantar RT diketahui RW, dan Surat Pernyataan Ahli waris. Semuanya harus menunjukkan dokumen aslinya.

Setelah lengkap membawanya ke kelurahan. Setelah diverifikasi, kelurahan akan membuatkan Surat Pernyataan Ahli Waris. Surat yang menyatakan bahwa kami berlima ini benar-benar ahli waris almarhum Abi. Tidak ada yang lain. Harus ada tanda-tangan semua ahli waris, di atas materai plus dua orang saksi. Setelah itu kami akan dijadwal sidang di hadapan lurah dan camat. Semua ahli waris harus hadir plus dua orang saksi tadi. Baru kemudian terbitlah Surat Keterangan Waris. Selain kami berlima, dua orang saksi, Surat Keterangan ini ditandatangani lurah dan camat.

***

Semua syarat sudah ada tinggal Akte kelahiran ahli waris. Tiga anak saya kelahiran Surabaya. Legalisir Akte Kelahiran sangat mudah dilakukan. Lewat klampid. Langsung jadi. Kita tinggal mengunggah scan Akte Kelahiran. Menunggu approval. Tarrrraa… sudah selesai. Tanpa keluar rumah. Tanpa antri.

Yang jadi masalah adalah Akte kelahiran si bungsu. Ia lahir di Sidoarjo. Saya bisa melegalisirnya di Surabaya dengan syarat butuh pengabsahan. Caranya: upload scan Akte Kelahiran, nunggu approval.  Bentuk approvalnya adalah Surat Pengantar dari dispendukcapil Surabaya untuk dikirim ke Sidoarjo. Dukcapil Sidoarjo harus memberi surat balasan. Saya harus upload surat balasan tersebut baru legalisir bisa dilakukan.

Satu kali 24 jam saya mendapat Surat Pengantar dari dispendukcapil Surabaya. Segera saya kirim via email ke dukcapil Sidoarjo. Apa yang terjadi? Ternyata email saya dijawab bahwa untuk kelahiran Sidoarjo tidak perlu pengabsahan. Legalisir bisa dilakukan di Sidoarjo atau tempat domisili sekarang  tanpa pengabsahan. Laah…. beda kan? Surabaya mengirim surat resmi, Sidoarjo tidak mau membalas karena itu tadi peraturannya: tidak butuh pengabsahan.

Saya ceritakan jawaban Sidoarjo pada petugas Call Center. Jawabannya, Surabaya tidak bisa melegalisir tanpa pengabsahan. Saya diarahkan mengurus offline saja.

“Baik, “ jawab saya.

Segera saya mencari informasi bagaimana melegalisir akte kelahiran di Sidoarjo. Ternyata dukcapil Sidoarjo punya antrian online. Jadi, kita harus mendaftar dulu untuk mengurus dokumen kependudukan. Tidak semuanya bisa diurus offline karena mereka juga punya layanan online. Setelah dapat nomor antrian saya minta tolong adik ipar saya untuk melegalisirnya. Saya sendiri sudah ada jadwal tes swab si bungsu di Siti Hajar. Dengan berbekal KTP Abi dan saya, KK asli maka berangkatlah adik saya itu.

Di tengah perjalanan saya ditelpon. Rupanya petugas dukcapil Sidoarjo memastikan apakah benar adik saya itu diminta mengurus legalisir akte keponakannya. Setelah saya terima telponnya baru mereka percaya dan meneruskan prosesnya dengan pesan: lain kali tidak boleh dilakukan. Harus orang tuanya sendiri. Alhamdulillah. Saya bisa bernafas lega. Semua syarat yang dibutuhkan sudah lengkap.

***

Keesokan harinya, adik ipar mengantarkan saya ke kelurahan. Dengan gagah saya masuk ke kantor kelurahan Dukuh Kupang dan diterima Pak Muji, staf pak lurah. Pak Muji ini yang dulu saya pikir pak lurah. Potongannya pas. Tinggi besar. Sepuh. Berkacamata. Tampak Berwibawa. Tapi sepatu Pak Muji sneaker bukan pantovel mengkilat. Hehehe…

“Bagaimana Mbak, sudah siap semua syarat-syaratnya?” tanyanya. Ia memanggil saya Mbak.

“Sampun, Pak,” jawab saya mantap  sembari mengeluarkan berkas dari tas kanvas coklat saya. Pak Muji menerima dan memeriksanya satu persatu. Mencoba memilah-milah.

“Ini berkas almarhum ya, Mbak,” katanya sambil memisahkan berkas-berkas Abi. KTP, KK, Akte Kematian Abi. Disatukan dengan staples.

“Sekarang berkas jenengan, Mbak, “ katanya sembari mencari berkas saya.

“Ini KTP, KK, Akte kelahiran jenengan?” tanyanya kemudian.

Saya nge-FREEZE.

“Loh, saya juga Pak?” jawab saya dengan polosnya.

“Nggih to, jenengan niku nggih termasuk ahli waris. Justru yang utama, “ katanya sembari menunjukkan persyaratan yang dibutuhkan. Persyaratan yang sudah saya hafal di luar kepala sebenarnya.

ASTAGHFIRULLAHALADZIIIM…..

Saya benar-benar tidak kepikiran kalau harus menyertakan Akte kelahiran saya juga.  Apalagi saya tidak punya Akte Kelahiran.

Heeeeemmm……

Panjang lagi nih, batin saya.

 

 

Sidoarjo, 25 Februari 2021.

4 Replies to “Surat Keterangan Waris (1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published.