Supporting Group B2

The power of Emak-Emak B2 (dok.pri)

Dalam bukunya Citizen 4.0, Hermawan Kertajaya menulis tentang pergeseran masyarakat dunia yang semakin horisontal. Tidak memperhitungkan bangsa, suku, agama, dan berbagai latar belakang lainnya. Yang terpenting adalah sumbangan kita kepada orang lain dan bagaimana menjadi ”citizen of the world”. Dengan konektivitas tinggi seperti sekarang ini, kita menjadi manusia dengan spirit yang lebih terbuka untuk bekerja sama, berinteraksi, dan saling menukar ide untuk mewujudkan satu aksi bersama.

Ibu-ibu di perumahan saya barangkali belum membaca buku setebal 420 halaman tersebut namun mereka telah mempraktikkannya. Saya saksi hidupnya. Ibu-ibu ini membentuk kelompok sukarelawan yang mensuplai kebutuhan logistik kami ketika harus menjalani isolasi mandiri. Supporting Group B2. Sesuai namanya, mereka mensupport kami. B2 adalah nama blok tempat kami tinggal, di Jaya Maspion Permata Sidoarjo.

Saya beruntung sekali karena dikelilingi orang-orang baik. Masyarakat di tempat saya tinggal sudah teredukasi bahwa Covid-19 bukan aib. Justru ia bencana nasional. Data yang saya kutip dari covid19.go.id per 1 Februari 2021 menunjukkan ada sekitar 1.089.308 positif, 883.682 sembuh, 30.277 meninggal. Data ini tidak main-main. Ada lebih dari satu juta orang terpapar Covid-19 sejak pertama kali diumumkan bulan Maret 2020. Itu yang dilaporkan. Jadi, jika Anda atau keluarga Anda terpapar Covid itu bukan aib. Itu musibah. Apalagi akhir-akhir ini, Covid semakin mengganas. Semakin banyak yang terpapar. Berita meninggal tak habis-habisnya di grup WA.

Saya katakan kami termasuk yang beruntung karena masih ada sebagian masyarakat yang mengganggap terkena Covid-19 adalah aib sehingga harus dikucilkan, harus dijauhi. Mereka tidak hanya menghadapi virus yang membandel ini tetapi juga stigma negatif masyarakat. Bahkan ada yang sangat ekstrim, rumahnya dipagari tali di sekelilingnya agar tidak bisa keluar rumah. Kejamnya…

Foto yang menyertai tulisan ini adalah menu yang kami dapatkan. Menurut bu RT, ibu-ibu ini secara sukarela berinisiatif membentuk grup tersebut. Awalnya banyak yang menjapri beliau, barangkali ada yang bisa mereka bantu untuk meringankan beban saya. Begitu penuturan bu RT ketika saya tanya asal muasalnya. Biar lebih fokus, maka yang berniat membantu saja silakan bergabung di grup tersebut. Feel free. Saya hitung ada sekitar 24 orang di sini. Berarti hampir 100% yang tergabung karena jumlah ibu-ibu yang ikut arisan ya sekitar segitu. Saya tahu persis karena saya aktivis PKK yang tentu paham datanya. Hehehe…

Ternyata benar-benar lintas ras, suku, dan agama.  Beberapa di antara ibu-ibu itu beretnis Cina, beberapa lainnya tidak seagama dengan saya. Ada yang juga yang sedang merawat suami yang pasca stroke. Ada yang single parent. Ada yang anaknya banyak. Ada yang punya bayi. Lengkap pokoknya. Mereka memiliki kesadaran kemanusiaan. Kesadaran kolektif. Mewujudkan satu aksi bersama: membantu saya yang sedang terkena musibah Covid ini.

Maka, jika di sekeliling Anda ada yang harus menjalani isoman karena  musibah ini saya himbau jadilah yang pertama. Yang terdepan berinisiatif meringankan beban mereka. Apalagi jika ada anggota keluarga mereka yang harus dirawat di rumah sakit. Pasti mereka tidak kepikiran akan masak apa hari ini. Paling tidak contohlah ibu-ibu di perumahan saya itu. Apakah mereka satu-satunya contoh? Tentu tidak.  Saya akan menulis tentang para sahabat saya yang juga memiliki kesadaran komunal seperti ini. Tunggu saja.

Saat itu, kami tidak kekurangan makanan meski harus di rumah. Pagi-pagi sudah ada yang menggantungkan madu, pisang, vitamin di pagar kami. Ada yang mengirim sembako dan bahan pokok lainnya. Itu di luar jadwal menu di atas. Biasanya mereka menjapri. Misalkan, bu Herna saya otw …ya; bu Her saya gantungkan di pagar ya; bu Her…sebentar lagi pak gojek membawa ini, dan sebagainya.

Setelahnya pasti saya berterima kasih atas perhatian dan bantuan mereka. Mendoakan dengan sepenuh jiwa agar kesehatan dan kebarakahan yang berlimpah diberikan pada mereka dan keluarga.

Suatu hari saya bingung pada siapa saya berterima kasih. Tidak ada yang menjapri saya. Lah.. saat itu saya mendapat kiriman sayur bayam, lauk pauk, pisang godok, dan sebagainya namun tak seorang pun menjapri saya. Di dalam bingkisan tak disebutkan dari mana. Sebab itu saya memaksa bu RT memberikan daftar menu supaya saya bisa melakukan kewajiban saya: berterima kasih atas pertolongan orang lain.

Akhirnya saya bisa berterima kasih karena daftar menu di atas. Makanan minuman sudah kami santap dan tak berbekas namun saya yakin setiap yang mereka keluarkan akan tercatat sebagai amal yang tak usai dimakan usia. Meskipun sebiji zarrah.

Maka, pada merekalah tulisan ini saya haturkan. Terima kasih banyak bu RT ku yang cantik. Terima kasih banyak ibu-ibu PKK B2. Love you as always.

Kentang teles, Gusti Allah sing mbales.

 

Sidoarjo, 2 Februari 2021

3 Replies to “Supporting Group B2”

Leave a Reply

Your email address will not be published.