Pak RT dan Pak Lurah

Pak RT dan Pak Lurah Dukuh Kupang (kemeja kotak-kotak). Barakah umurnya jenengan berdua Pak. (sumber: dok. pak RT)

Kami tinggal di Sidoarjo namun KTP kami tetap Surabaya. Tepatnya di Dukuh Kupang. Masih ada rumah jujugan yang sekarang ditempati adik.  Urusan surat menyurat biasanya saya mengandalkan adik yang juga pengurus RT itu. Ia akan menguruskan surat pengantar ke RT dan RW. Kalau sudah di tingkat kelurahan saya harus melakukannya sendiri.

Masih ingat cerita saya tentang klampid? Kalau belum bisa dibaca di sini. Nah, saya menemukan kesulitan ketika harus melegalisir Kartu Keluarga (KK). Saya sudah memasukkan nomor KK yang dimaksud tapi tidak berhasil. Di aplikasinya muncul kotak dialog yang berbunyi: KK Anda tidak terdaftar. Saya ulangi sekali lagi. Tetap sama.

Saya coba memasukkan nomor lain yang ada di bagian atas dokumen KK. Barangkali saya salah memasukkan nomor yang tadi. Ternyata muncul notifikasi: periksa koneksi internet Anda. Saya telpon Call Center, barangkali memang koneksi internet saya, begitu kata petugasnya. Tapi, tidak juga sih. Anak-anak semua sedang ngezoom dan lancar-lancar saja. Saya coba buka tab lain juga tidak ada masalah. Okelah. Saya reset laptop. Mulai lagi dari awal. Tetap sama. Sepertinya ini masalah.

Saya coba telpon adik. Ia mengarahkan ke Pak RT. Pak RT ini usianya masih muda. Sepantaran adik saya. Saya kenal baik istrinya yang juga seorang guru. Pak RT ini orangnya sangat bijak dan semanak. Ramah dan penuh kekeluargaan. Dari tutur katanya saya bisa menyimpulkan demikian. Ia mendampingi anak-anak kami ketika harus menjalani karantina di Asrama Haji Sukolilo.  Menelponnya, memberi semangat, menjaga psikologis mereka. Beliau juga memberitahu langkah-langkah apa yang harus saya ambil ketika mengurus ini itu. Seperti saat saya menemukan masalah legalisir KK online. Uniknya, Pak RT ini mileneal banget. Selalu memakai voice message dibanding text. Mungkin capek ya menanggapi segunung masalah warganya. Hehehe…

“Mbak Herna, kalau menurut saya lebih baik jenengan ke kelurahan saja. Nanti akan dibantu sama petugasnya,” jawabnya melalui voice message.

“Begitu, ya?” jawab saya ikut-ikutan merekam suara, “Matur nuwun sanget Pak RT. Saya selalu merepotkan. “

“Loh, Mbak Herna belum tahu singkatan RT? REPOT TERUUUUSSSS…hahaha…. ” katanya sambil tertawa ngakak.

Masya Allah.

***

Keesokan paginya saya benar-benar meluncur ke Kelurahan Dukuh Kupang. Saya menuju petugas di sana menyampaikan keperluan saya.

“Kalau legalisir seperti ini ibu harus ke dukcapil saja, “ katanya.

“Harus ke sana, Pak?” tanya saya keheranan.

Tiba-tiba seorang anak muda bercelana jeans menghampiri saya dan bertanya apa keperluan saya. Petugas kelurahan lain sepertinya. Mungkin TU-nya. Saya ceritakan semua kronologisnya.

“Di sini saja, Bu. Ini aplikasi Klampid. Ibu sudah punya akun. Kalau sudah ibu login dulu nanti saya bantu?” katanya dengan santun.

“Sudah, Pak,” jawab saya.

Segera saya menuju sebuah monitor yang cukup besar bertengger di samping pintu masuk. Disanggah sedemikian rupa hingga tampak kokoh. Di samping kanan monitor tersebut ada meja kecil tempat meletakkan dokumen. Monitor touch screen tampaknya tapi dilengkapi juga keyboard. Di sampingnya terhubung sebuah mesin scanner. Ketika saya mengetikkan username saya, petugas tersebut teringat sesuatu.

“Ibu kemarin yang ngurus Akte Kematian ya? Bukan ibu sih yang ke sini tapi saudara jenengan,” katanya kemudian.

“Betul, Pak. Itu adik saya, ”jawab saya. Segera saya mengingat insiden tanda tangan virtual kemarin. Berarti ini petugas yang membantu adik. Alhamdulilah.

Karena melihat saya agak kedodoran dalam menggunakan touch screen, petugas tersebut mengambil alih. Saya segera menyingkir agak menjauh. Ia mengetikkan nomor KK tapi tidak berhasil. Diketikkan lagi. Tetap sama.

“Sepertinya ini sistem klampidnya yang agak eror. Coba saya hubungi pusat ya Bu. Jenengan tunggu di sini saja,” instruksinya sambil mengarahkan saya ke kursi tunggu. Saya lihat ia mengetikkan pesan di WA. Sejurus kemudian ia menunjukkan pesan tersebut ke saya.

“Sambil menunggu jawaban pusat, saya membantu bapak itu dulu ya Bu, “ katanya sambil menunjuk pada seorang bapak yang ngantri.

Tidak lama kemudian ia menghampiri saya dan memberitahukan kalau memang kesalahan di sistem. Nomor yang sudah saya entrikan di rumah sudah benar. Pun nomor yang dientrikannya di sini benar. Pusat mengentri secara manual sehingga KK saya bisa dilegalisir. Alhamdulillah.

“Alhamdulilah, sudah jadi Bu. Ibu boleh cek di aplikasi nanti. Ini saya print sebentar, “ katanya kemudian. Sejurus kemudian saya sudah mendapatkan hasil print KK yang terlegalisir.

Alhamdulilah akhirnya berhasil melegalisir KK. Saya berterima kasih pada petugas tersebut karena sudah membantu saya. Segera ia menyelesaikan urusan berikutnya dengan bapak yang sudah ngantri tadi.

“Jenengan namanya siapa, Pak?” tanya saya karena merasa terbantu sekali.

“Fahmi, bu,” jawabnya sambil terus melakukan tugasnya.

“Terima kasih banyak Pak Fahmi. Jenengan sangat membantu. Terima kasih banyak, Pak, “ pamit saya sambil mengulang-ulang rasa terima kasih saya.

***

Sesampai di rumah saya ingin ngeprint KK kembali karena saya butuh 2 lembar. Lah, kok di aplikasi tetap sama seperti kemarin. Waduh… petugas tadi meminta saya memeriksa di aplikasi saya kok nggak saya periksa ya?

Segera saya telpon adik.

“Punya nomor telpon Pak Fahmi, petugas yang bantu aku tadi. Dia juga yang bantu ngurus akunku kemarin katanya,”

“Pak Fahmi? Sing yak opo wonge?” tanya adik.

“Sek enom. Sak awakmu lah. Bahkan luwih tuwo awakmu koyoke. Wonge helpful banget,” jawab saya kemudian.

“Sek..sek..sek.. sing bantu aku wingi iku Pak Lurah….. Pak Fahmi itu Lurah Dukuh Kupang,” jawabnya membuat saya terkejut.

HAAAAH…

***

Begitulah saudara. Yang saya kira petugas kelurahan itu justru Pak Lurah Dukuh Kupang. Namanya Fahmi Fitrah Ardiansyah. Bayangan saya tentang lurah yang tinggi besar, berkumis lebat, berjas hitam, bersepatu fantovel mengkilat,  dan sulit ditemui warga akhirnya hilang seketika. Sebaliknya, pak lurahnya masih muda, outfitnya stylish: celana jeans, kemeja  dan sepatu santai. Apalagi ketika Pak RT cerita kalau Pak Lurah Dukuh Kupang itu nyaris  jarang di ruangan beliau. Selalu terdepan melayani warga. Anak buahnya sampai bingung.

“Umurnya sekitar 32. Kalau sedang tidak dinas, konco dolin. Kalau pas di kantor sangat profesional, “ voice message Pak RT ke saya sewaktu saya konfirm tentang insiden tersebut.

Semoga barakah umurnya Pak. Senang rasanya melihat pejabat, abdi negara yang melayani warga dengan sangat baik. Jika jenengan baca tulisan ini terimalah permohonan maaf saya yang telah menganggap jenengan sebagai petugas TU kelurahan. Sukses selalu Pak.

 

Sidoarjo, 24 Februari 2021

8 Replies to “Pak RT dan Pak Lurah”

  1. Banyak kejutan-kejutan yang menggembirakan tetapi ada pula yang menyedihkan sebagai bumbunya Bu Herna, saat menapaki jalan kehidupan dalam rangka menghantar buah hati kita. Semoga Bu Herna menjelma sebagai Wonder Woman yang sempurna… Barakallah…

Leave a Reply

Your email address will not be published.