Mulai dari 0

Saya bersama keempat malaikat kecil saya sesaat sebelum berangkat sekolah. Foto diambil Desember 2010. (Dokumen pribadi)

“Mik, umik nikah sama Abi  itu mulai dari nol ya?” tanya sulung saya beberapa hari pasca wafatnya Abi. Sulung saya ini seorang mahasiswi semester 4 sebuah PTN di Jogyakarta. Aktivis BEM tapi dia mewarisi bakat ayahnya. Jualan. Ketika SMP-SMA ia sudah menjajal kemampuannya berdagang. Sebenarnya ikut-ikutan tren saat itu. Menjual barang-barang berbau Korea. Kaos, jaket, poster, aksesoris, dan sebagainya. Tabungannya lumayan banyak untuk ukuran remaja saat itu. Ketika SMA kelas 12 ia berhenti sendiri karena fokus les supaya tembus PTN. Akhirnya keterusan sampai kuliah. Apalagi saya memintanya aktif di organisasi agar punya pengalaman lebih saat kuliah. Membangun jejaring sebanyak mungkin. Jangan jadi kutu buku. Sekarang ia memimpin adik-adiknya mengurus beberapa toko online yang sudah dirintis Abinya.

“Ya mbak,” jawab saya. Tentang nikah ini sepertinya si sulung ingin mengonfirmasi pernyataan saya. Beberapa hari sebelumnya saya kumpulkan anak-anak saya. Saya menceritakan betapa beruntungnya saya mempunyai suami seperti Abi.  Capaian-capaian yang kami raih sebagai pasangan. Hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya ketika masing-masing kami masih lajang. Betapa beruntungnya mereka mempunyai ayah seperti Abinya.

Abi itu tipe rumahan. Suami yang tidak malu menggendong anaknya dengan jarit—semacam selendang batik. Mencuci piring, baju, membersihkan rumah, menemani saya belanja, memasak, menjahit pakaian yang sobek, menyetrika, dan  pekerjaan rumah lainnya. Enthengan, ringan tangan.

Bahkan ketika sulung saya masih bayi, Abinya yang memandikan, memakaian baju, menggendongnya kalau dia rewel, meninabobokkan. Lah terus saya ngapain? Saya stress. Sedih karena kehilangan ibu saya. Ibu saya wafat ketika saya hamil 3 bulan. Jadi, saat melahirkan saya teringat terus sama ibu. Entahlah apakah itu baby blues atau mendekati depresi pasca melahirkan. Makanya saya sangat beruntung mempunyai suami seperti Abi. Secara berseloroh ia berkata,”Aku iki iso kabeh Dek, kecuali siji: menyusui.”

Masya Allah.

Saya angkat topi setinggi-tingginya pada bapak ibu mertua yang telah mendidik putranya sedemikian rupa. Membekalinya dengan life skill untuk bisa survive. Terima kasih yang dalam saya haturkan pada panjenengan berdua, Ma’e-Pak Embah. Karena itulah saya meminta kedua anak laki-laki saya mencontoh Abinya. Mereka harus bisa masak meskipun lelaki. Mereka harus bisa semua keterampilan rumah tangga. Menyapu, mengepel, membersihkan pekarangan, mencuci piring-baju, menjemur, melipat baju, menyetrika, membersihkan kamar mandi, ngosek WC, dan sebagainya.  Apalagi yang perempuan.

***

Kembali ke pertanyaan sulung saya tadi. Kami memang berangkat dari nol. Abi merantau ke Surabaya dari Lamongan. Tidak ada sanak saudara. Ceritanya, ia dititipkan pada seorang teman pakliknya, membantu bersih-bersih rumah. Kalau cerita ini bahasa Abi agak kasar: mbabu katanya. Selanjutnya ia lebih memilih tidur di Masjid IKIP Surabaya, beraktivitas di masjid bersama teman-temannya. Baru kemudian ngekos.

“ Kalau Umik anak rumahan, Mbak, alias nggak pernah jauh dari rumah… hahaha, “ tawa saya. Saya berasal dari keluarga sederhana untuk tidak menyebutnya kurang. Bapak saya guru SD. Gambaran Oemar Bakri-nya Iwan Fals. Ke sekolah naik sepeda kumbang. Gajinya habis bahkan sebelum tengah bulan. Belum ada sertifikasi seperti guru-guru sekarang.

Saya tidak pernah jauh dari rumah. Orang tua saya termasuk kolot. Anak perempuan tidak boleh keluar jauh dari rumah. Kuliah harus di Surabaya. Makanya saya tidak pernah merasakan nasib anak kos karena tidak pernah ngekos.

Ngekos vs nggak ngekos ini sudah menjadi perbedaan dalam menyikapi sesuatu di kemudian hari setelah kami menikah.

“Abimu itu Mbak butuh meyakinkan Umik berkali-kali saat meminta untuk ngekos setelah menikah,” kata saya kemudian.

Ya. Karena saya memang tidak pernah jauh dari orang tua. Kenapa harus ngekos kalau sudah ada tempat tinggal? Kok soro banget. Begitu pikiran saya saat itu. Namun, akhirnya saya luluh pada Abi setelah ia menjelaskan mengapa kita harus mandiri. Keluar dari rumah orang tua bukan berarti putus hubungan dengan orang tua tetapi lebih pada menjalani fase hidup—tahap perkembangan sebagai orang dewasa.

“Kalau menurutku ya betul Abi, Mik. Lebih enak mandiri, “ sela sulung saya.

“Ya, karena kamu sudah merasakan ngekos. Tapi tempat kosmu loh berbeda jauh dengan zaman Abi,” kilah saya.

Si Sulung ini tinggal di asrama putri.  Alasan saya memilihkan asrama simpel saja. Karena kami dari luar kota, tidak punya saudara di Jogja. Universitas menawarkan asrama bagi mahasiswa tingkat pertama. Bagi kami ini bentuk kemudahan yang harus diambil. Asramanya sangat bagus. Mirip hotel bahkan. Akses internet lancar. Ada ruang belajar yang cozzy. Ada dapur bersama juga. Yang paling penting, lebih aman bagi kami untuk menitipkan anak perempuan di asrama. Ada satpam 24 jam.

“Tapi kan tetap bisa mandiri. Aku harus mengatur uang bulanan. Berapa buat transport, buku, makan, pulsa. Aku tetap masak nasi, kadang harus cari sayur ke kampung sebelah. Sudah capek-capek kuliah, rapat, masih harus nyuci baju, menyetrika. Terus kalau akhir bulan duwitku menipis ya harus mampu bertahan. Kalau kondisi kos Abi yang jelek dan asramaku sing apik itu kan Abi- Umik yang milih. Aku ya seneng ae..laaaah….“ jawabnya diplomatis.

“Makanya Abi-Umik tidak pernah melarang kalian sekolah jauh meskipun kamu perempuan.  Ke manapun kamu menuntut ilmu asalkan realistis dan mampu menjaga diri. Kamu di Jogya bisa belajar mandiri. Adekmu yang mondok itu juga lebih mandiri, kalaupun terpaksa di dalam kota ya harus tetap mandiri, ” sambung saya.

***

Begitulah. Sebulan atau dua bulan setelah menikah saya ikut suami. Abi melanjutkan kontrakan teman yang harus dimutasi keluar kota. Rumah sederhana. Namun, di situ ada pemilik rumahnya. Menempati ruang kecil.  Rumah sederhana itu terdiri dari ruang tamu, satu kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Sementara pemilik rumah menempati ruang kecil di balik ruang tamu. Semacam sosoran gitu. Tempatnya di daerah pasar Karah. Dekat kantor Abi di Jawa Pos Karah Agung 45 itu.

“Itulah pertama kalinya Umik keluar dari rumah dalam arti sesungguhnya, “ kata saya kemudian, “Setelahnya tentu bukan hal mudah. Rumah tangga itu bukan jalan tol. Namun,  karena dijalani berdua ya semuanya bisa teratasi dengan baik. From zero to hero. Setidaknya kami adalah hero dalam kehidupan kami, Mbak. Kami nggak punya apa-apa saat itu. Allah yang memampukan. Abi-Umik bisa beli motor, mulanya satu jadi dua, tiga. Pindah ke rumah yang lebih manusiawi (hehehe).. lalu pindah lagi. Punya anak, dari satu jadi empat. Kalau kalian sakit bisa membawa ke rumah sakit. Bisa menyekolahkan kalian di sekolah-sekolah terbaik. Bisa kasih makan sehingga kalian gendut-gendut begini. Semuanya itu pencapaian yang luar biasa bagi kami.”

Sulung saya itu terdiam.

 

Sidoarjo, 28 Februari 2021

8 Replies to “Mulai dari 0”

Leave a Reply

Your email address will not be published.