GHB

Pak Embah menasehati cucu-cucunya. (sumber: dokumen pribadi)

Foto yang menyertai tulisan ini saya ambil tanggal 7 Januari 2021. Sesaat setelah kami memakamkan almarhum Abi. Orang tua di foto itu adalah Pak Embah, bapak mertua saya, ayah Abi. Semua cucunya memanggilnya demikian. Anehnya,  untuk nenek mereka tetap memanggil Ma’e, seperti halnya kami yang memanggilnya begitu. Entahlah mengapa mereka nggak memanggilnya Mak Embah.

Pak Embah sedang menasehati cucu-cucunya, anak-anak kami.

“Kalian sudah nggak punya ayah makanya harus rajin salat, belajar, dan mengaji untuk Abimu. Sayangi Umik. Jangan pernah berkata kasar. Hormati Umik,” nasehatnya.

Anak-anak diam mendengarnya. Patuh.

Pak Embah ini sangat istimewa. Ingatannya sangat kuat. Kata Abi, seandainya dulu ayah ibu Pak Embah punya biaya mungkin akan menyekolahkan sampai ke Mesir untuk menjadi ustad. Seperti halnya teman sekelasnya yang sekarang menjadi ustad tersohor di kampungnya.

Kemampuan Pak Embah setara dengannya. Bahasa Arabnya, bacaan Al Qur’annya, pengetahuan hadistnya, Matematikanya.  Sayangnya, nggak kuliah itu tadi. Zaman dulu belum ada beasiswa bidik misi apalagi Kartu Indonesia Pintar (KIP). Beruntunglah anak-anak yang hidup di zaman sekarang. Meskipun kurang beruntung secara ekonomi, mereka masih bisa dan harus bisa mengenyam pendidikan tinggi. Saya ikut barisan yang mempercayai bahwa pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan. Jadi, jika di sekitar Anda terlihat ada anak usia sekolah namun tidak mampu maka tergeraklah Anda untuk membantunya. Setidaknya berikan informasi kemudahan beasiswa yang diberikan oleh pemerintah.

Hobi Pak Embah cukup unik. Main tebak-tebakan. Ini yang sering dirindukan anak-anak kami ketika berlibur ke desa. Yang paling sering tebak-tebakan Matematika. Mencongak. Pak Embah selalu memberi soal dengan intonasi yang cepat dan agak nggremeng. Menjengkelkan. Heeem…

Ia selalu memulai dari soal yang mudah. Contohnya: 5 x 5; 6 x 6; 10 x 10, dan seterusnya.

Kemudian ia akan menaikkan tingkat kesulitannya. Step by step.

“Ayo Salman,  6 ping 5 ping 7 piro?” tanyanya dengan kecepatan penuh.

Salman dengan cepat menjawab,” 210.”

“Ayo Enji, 5 ping 5 ping 5 piro?”

“125,” jawab Enji antusias.

“8 ping 90 ping 4,5 ping 9,5 dikurangi 35 piro?” tanya Pak Embah sambil menyeringai.

Anak-anak langsung keok. Hahaha…

“Ayo, Ning, saiki wayahe sampeyan.  1000 ping 3 juta ping 60 dibagi 5,5 dikurangi 500 piro?” tanyanya pada saya.

Ning itu panggilan kesayangan untuk saya. Pak Embah memanggil saya Ningrum bukan Herna sebagaimana kebanyakan orang memanggil saya. Menantunya pun nggak luput dikasih tebakan.

Saya yang nggak terlalu pintar Matematika tentu saja menjawab seenak saya, “3655.”

“Ngawur!” seru Pak Embah.

“Kalau Pak Embah nggak percaya ya coba dihitung sendiri,” kilah saya.

“Hahaha…,” Pak Embah tertawa sampai terguncang bahunya.

Biasanya Abi menambah-nambahi tebakan yang menurut saya sangat nggak masuk akal agar saya tampak oon di depan Pak Embah. Kalau sudah begitu saya biasanya merajuk.

Meskipun suka main tebak-tebakan, tebak-tebakan Pak Embah nggak main-main. Sambung ayat. Pak Embah akan membacakan potongan ayat suci Al Qur’an dan kita harus meneruskannya.  Sampai beliau bilang stop. Nah… ini saya nggak bisa ikut karena nggak mampu. Anak-anak saya sangat menikmati tebak-tebakan jenis ini. Terutama Salman dan Enji. Mungkin karena basic sekolah mereka Islam. Bahkan ketika Salman di pondok pernah ia berkata sangat merindukan momen tebak-tebakan ayat ini dengan Pak Embah.

***

Nah, apa hubungan judul di atas dengan Pak Embah?

Seperti halnya tebakan, Pak Embah tidak hanya menasehati cucu-cucunya. Saya pun dapat jatah. Seminggu yang lalu kami ziarah ke makam Abi. Setelahnya kami menginap sehari. Saya menemukan bahwa di setiap jengkal rumah ini menyimpan kenangan saya bersama Abi. Mulai dari pengantin baru sampai dikaruniai 4 amanah Allah ini.  Saya harus banyak-banyak menghela nafas panjang karena saya menemukan cintanya di setiap sudut rumah ini.

Di suatu sore, sambil menikmati kudapan ala desa Pak Embah menasehati saya.

“Ning, sekarang sampeyan dan anak-anak harus menggalakkan GHB,” kata Pak Embah serius.

“GHB, apa itu Pak Embah?” tanya saya keheranan. Pikiran saya ingat THB, Tes Hasil Belajar. Hehehe… dasar Guru.

“Gerakan Hidup Baru,” jawab Pak Embah sambil tersenyum.

“Wah…keren Pak Embah. Menciptakan singkatan sendiri,” puji saya.

Pak Embah tertawa.

Sampeyan saiki kondisine wes bedo. Dadi bapak ya sekaligus ibu. Ayo sing semangat. Nuruti gelo,  aku ya gelo. Tapi piye maneh, ayo diterima wae ketetapan Allah iki. Mangkane saiki galakno Gerakan Hidup Baru,”

(Sekarang kondisimu sudah berbeda. Jadi ayah sekaligus ibu. Ayo yang semangat. Kalau menuruti sedih, Bapak ya sedih. Tapi bagaimana lagi, kita terima saja ketetapan Allah ini. Sekarang kita galakkan Gerakan Hidup Baru)

Disebut gerakan karena melibatkan semua pihak. Tidak hanya anak-anak, tapi juga saya, saudara-saudara Abi, Pak Embah dan Ma’e. Tidak hanya fisik tetapi juga hati, dan pikiran. Hidup baru karena memang berbeda. Sudah tidak ada lagi suami di samping saya, ayah bagi anak-anak, anak bagi Pak Embah dan Ma’e, dan saudara bagi saudara-saudara Abi yang lain.  Butuh waktu memang. Kalau sulit, kata Pak Embah minta saja sama Allah agar dimudahkan.

Ya Allah..Matur nuwun sanget nasehatnya. Semoga Pak Embah dan Ma’e selalu sehat wal afiat, selalu bahagia, dan barakah umurnya.

Dalam bahasa saya GHB berarti Life must go on.

 

Sidoarjo, 19 Februari 2021.

4 Replies to “GHB”

Leave a Reply

Your email address will not be published.