Appointment in Samarra

Masjid Agung di kota Samarra, Irak (sumber: wikipedia.org)

Appointment in Samarra adalah sebuah cerita pendek yang dikisahkan kembali oleh W. Somerset Maugham (1933). Saya mendengarnya dari dosen saya, Prof. Budi Darma. Saat itu status saya sebagai mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Surabaya. Kisah ini juga menjadi epigraf novel dengan judul sama yang ditulis oleh John O’ Hara (1934). Kutipan aslinya sebagai berikut.

There was a merchant in Bagdad who sent his servant to market to buy provisions and in a little while the servant came back, white and trembling, and said, Master, just now when I was in the marketplace I was jostled by a woman in the crowd and when I turned I saw it was Death that jostled me.  She looked at me and made a threatening gesture,  now, lend me your horse, and I will ride away from this city and avoid my fate.  I will go to Samarra and there Death will not find me.  The merchant lent him his horse, and the servant mounted it, and he dug his spurs in its flanks and as fast as the horse could gallop he went.  Then the merchant went down to the marketplace and he saw me standing in the crowd and he came to me and said, Why did you make a threating getsture to my servant when you saw him this morning?  That was not a threatening gesture, I said, it was only a start of surprise.  I was astonished to see him in Bagdad, for I had an appointment with him tonight in Samarra.

Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini.

Ada seorang saudagar di Baghdad. Ia menyuruh pembantunya ke pasar untuk membeli perbekalan. Nggak terlalu lama, pembantu tersebut pulang dengan wajah pucat pasi. Ia berkata pada tuannya, “ Tuan, saya dikejutkan oleh seorang perempuan di kerumunan pasar tadi. Saat saya sadari, ternyata ia adalah Sang Maut. Ia menatap dan menakuti saya. Sekarang, tolong pinjami saya kuda. Saya akan menyingkir dari kota ini untuk menghindari takdir. Saya akan pergi ke Samarra, supaya maut itu tidak menemukan diri saya.”

Saudagar itu meminjamkan kudanya. Segera si pembantu memacu kuda tersebut dengan sangat cepat  sampai-sampai seolah-olah ia terbang. Lalu, saudagar tersebut menuju ke pasar dan menemukan Sang Maut di kerumunan. Ia mendatanginya dan bertanya,” Mengapa kamu menakut-nakuti pembantuku ketika bertemu dengannya pagi tadi?” Maut pun menjawab, “ Saya nggak menakuti, justru terkejut bertemu dengannya di Baghdad ini karena saya ada janji dengannya nanti malam di Samarra.”

***

Makjleb.

Pembantu yang merasa ketakukan akan mati menganggap dengan pergi ke Samarra ia bisa menghindari maut, takdirnya. Padahal, justru malaikat maut akan mencabut nyawanya di sana. Di Samarra. Samarra sendiri adalah nama kota kecil di Irak. Kematiannya sudah tertulis di sana. Tempat dan waktu sudah ditetapkan.

Karena ini Arabic tales, bisa jadi kisah ini  merujuk pada Al Quran. Surat An Nisa ayat 78 menyatakan “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.”

Kematian adalah perkara ghaib. Pembantu yang lari itu tidak pernah tahu justru ia menuju kematiannya. Kita pun tidak tahu kapan ia akan menjemput kita.

Dalam konteks kekinian, saya jadi teringat tulisan Dahlan Iskan beberapa waktu lalu.  Judulnya Swab Akhir. Dalam salah satu paragrafnya ia menulis: Covid ini benar-benar aneh. Ada yang diobati baru sembuh. Ada yang diobati mati. Ada yang tidak diobati sembuh. Ada yang tidak diobati mati.

Kalau sudah demikian, sepertinya pendekatan transendental yang berbicara. Bahwa hidup mati manusia sudah ditetapkan jauh-jauh hari sebelum penciptaan langit dan bumi. Tercatat di Lauhul Mahfudz. Sekali lagi,  kita nggak pernah tahu.

Seandainya saya tahu tentu saya bisa memilih. Saya akan menikah dengan orang yang akan menemani saya sampai akhir hayat. Menua bersama. Setia sampai senja. Seperti pae dan mae. Bapak ibu mertua saya. Mereka adalah pasangan teromantis yang pernah saya tahu. Dulu saya benar-benar mendamba seperti mereka. Namun, kenyataan berkata lain. Saya nggak mungkin bisa menyamai mereka. Kontrak hidup suami saya sudah habis.

Saya menulis ini sebagai pengingat bagi diri saya pribadi agar menerima segala yang ditetapkan Allah. Saya harus segera berdamai dengan keadaan. Saya katakan demikian karena terkadang saya masih menangis. Masih menyebut nama Abi. Padahal saya tahu bahwa setiap yang berjiwa pasti merasakan mati. Kalau sudah begitu, Salman, putra saya itu akan berkata, “ Umik, Abi itu sudah nggak ada. Didoakan saja. Allah itu selalu ada. Umi berdoa saja.”

 

Sidoarjo, 10 Februari 2021

2 Replies to “Appointment in Samarra”

  1. Tulisan reflektif yang bagus dan inspirasit bagi sesama penulis. Menggunakan karya orang lain utk trigger atau pemerkaya tulisan kita. Mantabs.

Leave a Reply

Your email address will not be published.