Mulai dari 0

Saya bersama keempat malaikat kecil saya sesaat sebelum berangkat sekolah. Foto diambil Desember 2010. (Dokumen pribadi)

“Mik, umik nikah sama Abi  itu mulai dari nol ya?” tanya sulung saya beberapa hari pasca wafatnya Abi. Sulung saya ini seorang mahasiswi semester 4 sebuah PTN di Jogyakarta. Aktivis BEM tapi dia mewarisi bakat ayahnya. Jualan. Ketika SMP-SMA ia sudah menjajal kemampuannya berdagang. Sebenarnya ikut-ikutan tren saat itu. Menjual barang-barang berbau Korea. Kaos, jaket, poster, aksesoris, dan sebagainya. Tabungannya lumayan banyak untuk ukuran remaja saat itu. Ketika SMA kelas 12 ia berhenti sendiri karena fokus les supaya tembus PTN. Akhirnya keterusan sampai kuliah. Apalagi saya memintanya aktif di organisasi agar punya pengalaman lebih saat kuliah. Membangun jejaring sebanyak mungkin. Jangan jadi kutu buku. Sekarang ia memimpin adik-adiknya mengurus beberapa toko online yang sudah dirintis Abinya. Continue reading “Mulai dari 0”

Surat Keterangan Waris (2)

Suasana persidangan untuk menerbitkan Surat Keterangan Waris. (dok.kelurahan dukuh kupang)

Jika Anda sudah dewasa dan belum punya Akte Kelahiran, sekaranglah saatnya mengurus dokumen tersebut. Barangkali suatu saat Anda akan membutuhkannya. Seperti saya. Apalagi sekarang semuanya serba mudah. Ini saya bicara sebagai warga Surabaya loh Rek. Semoga warga di kota-kota lain juga menikmati kemudahan yang sama.

Untuk membuat Akte Kelahiran dibutuhkan surat dokter.  Masalahnya, saya tidak punya. Tak perlu khawatir. Klampid menyediakan Surat Pernyataan Pertanggungjawaban Mutlak (SPTJM) Kebenaran Data Kelahiran. Unduh form-nya dan diisi. Surat ini menunjukkan kita dilahirkan oleh ibu yang bernama …. Kemudian harus diketahui dan ditandatangani dua orang saksi. Jangan lupa foto kopi KTP para saksi. Surat ini diunggah sebagai pengganti surat dokter, bidan atau penolong kelahiran lainnya. Dukun bayi misalnya. Zaman dulu kan mayoritas kelahiran ditolong oleh dukun bayi. Jangan-jangan saya salah satunya… hehehe. Continue reading “Surat Keterangan Waris (2)”

Surat Keterangan Waris (1)

Setumpuk berkas yang saya harus saya urusi selain anak-anak, kantor, dan bunga. (dok.pri)

Saya tahu tidak mudah mengurus administrasi dengan kondisi saya saat ini. Pasti membutuhkan waktu, energi, dan pikiran. Bagi saya waktu bukanlah faktor terberat karena kerja di era pandemi  relatif lebih fleksibel. Apalagi Direktorat tempat saya bekerja memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi saya untuk menyelesaikan semua urusan pasca wafatnya Abi. Masalahnya ada pada energi terutama pikiran. Energi ini sumbernya dari pikiran. Saya sadar kalau pikiran saya positif, Insya Allah akan menghadirkan energi positif. Jadi, masalah terberat adalah menghadirkan pikiran positif.

Karena itulah saya benar-benar meminta pada Allah agar menjernihkan pikiran saya. Semoga Allah selalu memudahkan semua urusan saya. Saya niati ibadah. Ibadah seorang hamba yang ketiban sampur, estafet kepemimpinan Abi. Mau tidak mau saya harus mempertanggungjawabkan amanah berupa 4 malaikat yang tidak lagi kecil itu, anak-anak kami. Saya niati sebagai bentuk bakti saya pada almarhum suami. Saya sangat menyayanginya. Rasanya bakti saya selama beliau hidup belumlah cukup. Karenanya, saya akan terus menyambungnya meski ia telah tiada.

*** Continue reading “Surat Keterangan Waris (1)”

Pak RT dan Pak Lurah

Pak RT dan Pak Lurah Dukuh Kupang (kemeja kotak-kotak). Barakah umurnya jenengan berdua Pak. (sumber: dok. pak RT)

Kami tinggal di Sidoarjo namun KTP kami tetap Surabaya. Tepatnya di Dukuh Kupang. Masih ada rumah jujugan yang sekarang ditempati adik.  Urusan surat menyurat biasanya saya mengandalkan adik yang juga pengurus RT itu. Ia akan menguruskan surat pengantar ke RT dan RW. Kalau sudah di tingkat kelurahan saya harus melakukannya sendiri.

Masih ingat cerita saya tentang klampid? Kalau belum bisa dibaca di sini. Nah, saya menemukan kesulitan ketika harus melegalisir Kartu Keluarga (KK). Saya sudah memasukkan nomor KK yang dimaksud tapi tidak berhasil. Di aplikasinya muncul kotak dialog yang berbunyi: KK Anda tidak terdaftar. Saya ulangi sekali lagi. Tetap sama. Continue reading “Pak RT dan Pak Lurah”

Klampid Surabaya

https://wargaklampid-dispendukcapil.surabaya.go.id/

Pernakah Anda merasa sedang tidak enak badan namun di saat yang sama harus mengalah karena anak-anak juga sakit? Beberapa kali saya mengalami hal itu. Dengan berseloroh saya berkata, “Kalian ini memang nggak pernah mengizinkan Umik sakit.” Hehehe… Bagaimana tidak? Ketika saya merasa masuk angin misalnya, eh… tiba-tiba ada yang sakit panas. Ketika merasa badan ini capek sekali, eh… tiba-tiba ada yang mengeluh diare. Kalau sudah seperti ini, sebagai orang tua kita harus mengalah. Mendahulukan mereka. Tentu saja hal ini berlaku pada kasus-kasus ringan. Gampangnya, kita harus paham skala prioritas. Continue reading “Klampid Surabaya”

GHB

Pak Embah menasehati cucu-cucunya. (sumber: dokumen pribadi)

Foto yang menyertai tulisan ini saya ambil tanggal 7 Januari 2021. Sesaat setelah kami memakamkan almarhum Abi. Orang tua di foto itu adalah Pak Embah, bapak mertua saya, ayah Abi. Semua cucunya memanggilnya demikian. Anehnya,  untuk nenek mereka tetap memanggil Ma’e, seperti halnya kami yang memanggilnya begitu. Entahlah mengapa mereka nggak memanggilnya Mak Embah.

Pak Embah sedang menasehati cucu-cucunya, anak-anak kami. Continue reading “GHB”

Appointment in Samarra

Masjid Agung di kota Samarra, Irak (sumber: wikipedia.org)

Appointment in Samarra adalah sebuah cerita pendek yang dikisahkan kembali oleh W. Somerset Maugham (1933). Saya mendengarnya dari dosen saya, Prof. Budi Darma. Saat itu status saya sebagai mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Surabaya. Kisah ini juga menjadi epigraf novel dengan judul sama yang ditulis oleh John O’ Hara (1934). Kutipan aslinya sebagai berikut.

There was a merchant in Bagdad who sent his servant to market to buy provisions and in a little while the servant came back, white and trembling, and said, Master, just now when I was in the marketplace I was jostled by a woman in the crowd and when I turned I saw it was Death that jostled me.  She looked at me and made a threatening gesture,  now, lend me your horse, and I will ride away from this city and avoid my fate.  I will go to Samarra and there Death will not find me.  The merchant lent him his horse, and the servant mounted it, and he dug his spurs in its flanks and as fast as the horse could gallop he went.  Then the merchant went down to the marketplace and he saw me standing in the crowd and he came to me and said, Why did you make a threating getsture to my servant when you saw him this morning?  That was not a threatening gesture, I said, it was only a start of surprise.  I was astonished to see him in Bagdad, for I had an appointment with him tonight in Samarra. Continue reading “Appointment in Samarra”

Cuma Kamu

Buku Kesayangan Abi, Biografi Rhoma Irama (dokumen pribadi)

Cuma kamu sayangku di dunia ini

Cuma kamu cintaku di dunia ini

Tanpa kamu sunyi kurasa dunia ini

Tanpa kamu hampa kurasa dunia ini

 

Bagi pecinta musik dangdut pasti ingat cuilan lagu di atas. Versi asli lagu itu dinyanyikan duet Rhoma Irama dan Rita Sugiarto. Lagu tersebut merupakan salah satu lagu dalam album Soneta Volume 4 berjudul Darah Muda yang dirilis tahun 1975. Darah Muda ini akhirnya diangkat menjadi film dengan pemeran utama bang Haji bersama Yati Oktavia pada tahun 1977.

Almarhum Abi adalah pecinta musik dangdut dan rock. Selain dua penyanyi legendaris di atas, Abi sangat suka dengan Nicky Astria. Katanya, suara Nicky Astria itu sangat powerful. Vokal rangenya menembus 4 oktaf. Kalau yang barat Abi sangat suka Roxette, Bon Jovi . Pokoknya yang suaranya powerful. Rita Sugiarto juga memiliki itu. Makanya, Abi sangat suka dengannya.

Saya sebaliknya. Nggak suka dangdut sampai saya ketemu Abi. Selera musik kami benar-benar berbeda. Saya lebih suka jazz, bosas. Penyanyi favorit saya Ermy Kulit, Rafika Duri. Kalau yang barat saya suka Louis Amstrong, Nat King Cole. Nah, itu Abi nggak kenal sama sekali. Continue reading “Cuma Kamu”

Sahabat

Foto jadul almarhum Abi (berbaju merah) bersama sebagian sahabatnya di masa kuliah semester pertama. (sumber: dok.pri)

Apa arti sahabat bagimu kawan?

Bagi saya, sahabat adalah ketika kita butuh bantuan kita nggak sungkan minta tolong. Seperti yang saya lakukan saat almarhum Abi masuk ICU. Saya sudah kehabisan termos untuk mengirim air hangat. Termos-termos itu nggak bisa saya ambil. Untuk membeli tentu butuh waktu sementara dia membutuhkan saat itu juga. Segera saya hubungi sahabat saya yang bisa mengirim air hangat dalam waktu cepat. Alhamdulilah… dia segera merespon dengan tanggap.

Seperti saat saya membutuhkan dukungan moril untuk Abi. Saya hubungi beberapa nomor sahabatnya dari masa lalu maupun masa kini. Teman kuliah, teman kerja, teman nongkrong, teman masjid. Dengan cepat mereka hadir dalam sapaan sehangat mentari pagi serta rangkaian doa tak bertepi. Sungguh. Benar-benar tak bertepi. Saya membaca chat mereka di HP Abi pasca beliau wafat. Continue reading “Sahabat”

Supporting Group B2

The power of Emak-Emak B2 (dok.pri)

Dalam bukunya Citizen 4.0, Hermawan Kertajaya menulis tentang pergeseran masyarakat dunia yang semakin horisontal. Tidak memperhitungkan bangsa, suku, agama, dan berbagai latar belakang lainnya. Yang terpenting adalah sumbangan kita kepada orang lain dan bagaimana menjadi ”citizen of the world”. Dengan konektivitas tinggi seperti sekarang ini, kita menjadi manusia dengan spirit yang lebih terbuka untuk bekerja sama, berinteraksi, dan saling menukar ide untuk mewujudkan satu aksi bersama.

Ibu-ibu di perumahan saya barangkali belum membaca buku setebal 420 halaman tersebut namun mereka telah mempraktikkannya. Saya saksi hidupnya. Ibu-ibu ini membentuk kelompok sukarelawan yang mensuplai kebutuhan logistik kami ketika harus menjalani isolasi mandiri. Supporting Group B2. Sesuai namanya, mereka mensupport kami. B2 adalah nama blok tempat kami tinggal, di Jaya Maspion Permata Sidoarjo. Continue reading “Supporting Group B2”