Abi dan Kompetisi

Alat peraga Label Obat dan Makanan (dok.pri)

“Abi…. aku lolos…, “ seru saya ketika kebetulan saya lolos dalam sebuah kompetisi atau memenangkan sebuah lomba. Saya menghambur dalam pelukannya. Ia merapatkannya. Sekecup ciuman mendarat di kening saya.

“Umik hebat!!!”  katanya. Segera ia banggakan saya di depan putra-putri kami. “Umikmu hebat!” serunya dengan mata berbinar-binar.

Dan saya selalu menjawab begini,

“Umik bisa lolos di lomba ini karena dukungan Abi. Kalau Abi nggak support, nggak mungkin Umik bisa seperti ini.”

*** Continue reading “Abi dan Kompetisi”

Plasma Konvalensen

Pak Sugeng dan koleganya sang pendonor Plasma Konvalensen (sumber: dok.sugeng)

Kalau saya ditanya foto apa yang paling membuatmu bahagia, saya akan menjawab foto itu. Tidak hanya perasaan bahagia tetapi super duper bahagia. Yang depan tanpa kaca mata  itu namanya Pak Sugeng. Beliau sahabat kami ketika kuliah di IKIP Surabaya. Dua lelaki lainnya adalah kolega Pak Sugeng. Mereka bertiga meluncur dari Mojokerto segera setelah saya membagi informasi dibutuhkannya donor plasma konvalensen untuk Abi.

Terapi Plasma Konvalense viral saat Pak Ganjar Purnomo, Gubernur Jawa Tengah mengunggah himbauan rekannya untuk mengkampanyekan sedekah darah. Menurutnya, ada testimoni penyintas Covid-19 yang mengalami perubahan kondisi tubuh semakin membaik setelah melakukan terapi tersebut. Continue reading “Plasma Konvalensen”

Secangkir Kopi Subuh

Secangkir kopi Subuh yang tinggal kenangan (Dok.pri)

Ingin dikenang seperti apa Anda jika kelak tiada?

Saya mengenang almarhum suami dalam secangkir kopi Subuh. Setiap Subuh seperti ini biasanya beliau pulang dari masjid bersama anak laki-lakinya. Sementara kami – yang perempuan salat Subuh di rumah. Begitu sampai di rumah, saya akan menyambutnya dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas. Menguarkan tajam aroma Arabika. Biasanya kopi itu ditemani dengan pisang goreng. Abi tidak pernah bosan dengan pisang goreng. Syaratnya satu, pisang kepok yang tidak terlalu matang.

Ini berbeda selera dengan saya. Saya lebih menyukai pisang kepok itu dikukus. Saat diturunkan dari panci pengukus, pisang yang masih panas itu saya kupas. Saya tusuk dengan garpu dan dinikmati panas-panas. Maknyuss… . Itu menurut saya. Menurut Abi, saya kurang alami. Pakai tangan, Mi. Biar bisa merasakan derajat panas pisang itu. Heeemm… Continue reading “Secangkir Kopi Subuh”

Writing is Healing

source: https://writingthroughthebody.com/

Saya sering mendengar kalimat yang saya jadikan judul tulisan ini. Menulis itu menyembuhkan. Saya juga pernah bertemu seseorang yang mengamalkan terapi ini. Seorang guru penulis yang tetap eksis di usia senjanya. Saya bertemu dengannya di sebuah pelatihan menulis. Padahal, beliau baru saja pasang ring di jantungnya. Menurutnya, menulis itu menyembuhkan.

Sahabat pembaca pasti pernah menonton film Habibie dan Ainun. Film produksi tahun 2012 itu dibintangi oleh Reza Rahardian sebagai Habibie dan Bunga Citra Lestari sebagai Ainun. Film itu kabarnya sangat sukses meraup penonton. Tidak kurang dari 4,7 juta penonton menyaksikan romansa mantan Presiden RI ke-3 tersebut. Film Habibie dan Ainun tersebut diangkat dari memoar yang ditulis oleh almarhum Habibie dengan judul sama. Beliau menulis buku itu atas saran seorang dokter untuk menyembuhkan diri dari depresi kehilangan istri yang sangat dicintainya. Continue reading “Writing is Healing”