Tentara-Tentara Allah (1)

Ilustrasi burung Ababil. Sumber: Hidayatullah.com

Tentara Allah sangat banyak jumlah dan ragamnya. Ada yang kasat mata ada yang ghaib. Yang kasat mata contohnya dari jenis manusia yaitu para sahabat yang mendampingi Rasulullah. Contoh yang ghaib bisa berwujud malaikat yang diturunkan dari langit.  Kita tidak mampu melihatnya. Dalam sebuah hadis disebutkan jika kita mampu melihat hal-hal ghaib maka kita tidak akan mampu tertawa. Sungguh. Ketika Rasulullah Muhammad SAW  melihat malaikat Jibril dalam wujud aslinya, beliau pun juga takut, kalut. Satu sayapnya saja sudah mampu menutupi bumi dan seisinya.

Tentara Allah juga ada yang berukuran kecil. Contohnya burung-burung yang diutus oleh Allah saat penyerbuan Ka’bah. Lalat, nyamuk, bahkan virus yang sedang menimbulkan pandemi saat ini pun merupakan bagian dari tentara Allah. Intinya, Allah mengingatkan manusia bahwa dirinya maha kuasa atas segala sesuatu.

Di dalam QS. AL Fiil disebutkan bahwa Allah mengutus burung-burung untuk menyerang pasukan raksasa atau super power yang datang ke Mekkah berkendara gajah. Gajah ini tidak ada di tanah Arab. Asal muasalnya dari benua Afrika. Jadi tahun 571 M, sudah ada angkatan laut yang bisa mengangkut gajah. Saat itulah Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Karena ada penyerbuan tentara bergajah maka tahun dilahirkannya beliau disebut Tahun Gajah.

Adalah Abrahah ibn Asram, seorang raja dari Ethiopia (ada yang menyebutnya sebagai  gubernur yang ada di Yaman)  yang ingin membangun gereja besar di Yaman.  Saat itu  keberadaan Ka’bah di Mekkah menjadi magnit bagi bangsa Arab. Tidak hanya untuk beribadah saja tetapi juga sangat menjanjikan dari segi ekonomi. Supaya gereja ini laku maka Ka’bah harus dihancurkan. Begitu pikirnya. Dikirimlah pasukan berjumlah besar menuju Mekkah.

Penduduk Mekkah tentu tahu kabar itu tapi mereka tidak bisa melawan pasukan super power tersebut. Mereka berbondong-bondong meninggalkan Mekkah, naik ke atas bukit. Salah satunya Abdul Mutholib, kakek Nabi Muhammad SAW. Meski masih jahiliyah mereka masih mengikuti ibadah Nabi Ibrahim. Mereka percaya pemilik Ka’bah adalah Allah. Mereka yakin pemiliknya akan melindunginya sehingga Ka’bah tidak mungkin dihancurkan.

Saat itu, kurang lebih 100 unta Abul Mutholib sudah dirampas pasukan Abrahah. Saat Abdul Mutholib menghadap Abrahah, ia pun dihinakan oleh Abrahah. Raja Abrahah bertanya mengapa Abdul Mutholib mementingkan untanya. Ia pun menjawab, “ Saya pemilik unta itu maka saya mengurusi unta. Ka’bah ada pemiliknya sendiri sehingga pasti ada yang menjaganya. “

Benarlah apa yang dikatakan Abdul Mutholib ini. Allah menjaga Ka’bah dengan mengirimkan tentaranya. Pasukan Allah itu bentuknya burung. Burung ini populer dengan nama Ababil. Padahal sebenarnya ababil itu bukan nama burung. Ababil artinya rombongan burung kecil yang datang bergelombang dalam jumlah banyak.

Dalam logika manusia hal ini cukup aneh bukan? Gajah yang besar itu dihadapkan dengan burung kecil. Namun, inilah hak Allah. Ia ingin menunjukkan kekuasannya. Jika Allah meghendaki,  pasukan raksasa pun bisa dibinasakan  oleh pasukan yang tampaknya remeh, tidak seimbang.  Ketika perang pun pasukan Rasulullah kadang  jumlahnya kecil namun mampu mengalahkan pasukan musuh yang besar karena izin Allah.

Uniknya, tidak banyak yang memaknai arti Surat Al Fill ini dalam tinjauan kebahasaan. Surat ini dibuka dengan kata  alam taro. Alam taro adalah bentuk pertanyaan tetapi makna sebenarnya adalah perintah.  Perintah untuk melihat. Melihat dengan mata kepala secara fisik atau bisa lebih dalam lagi alias berpikir. Maknanya cermatilah/selidikilah//telitilah. Apa yang diteliti?

Kaifah yaitu cara atau teknik Allah dalam membinasakan pasukan gajah raksasa itu. Cermatilah bagaimana teknik yang digunakan Allah untuk membinasakan. Tekniknya bagaimana?

Pertama, Allah mengutus burung dalam jumlah banyak yang datang secara bergelombang. Burung kecil ini menembaknya/melemparnya dengan batu-batu kecil yang sudah dipanaskan, direkayasa sedemikian rupa supaya punya kekuatan yang dahsyat. Dipanaskan entah berapa derajat. Ada yang mengatakan batu kerikil tersebut dari neraka. Gajah yang kena batu kecil itu meledak. Yang mengenai manusia bisa tembus mulai kepala sampai dubur.

Kedua, Tidak satu pun batu-batu yang ditembakkan itu meleset. Saksi hidup orang-orang Mekkah yang menyaksikan perang tersebut mengatakan ternyata tidak ada yang salah sasaran atau meleset. Padahal rudal Amerika Hawk yang dibidikkan ke Baghdad  beberapa tahun silam ternyata banyak juga yang tidak tepat. Ada yang mengenai hotel, pasar, pemukiman. Lah ini burung. Pasukan raksasa yang dijatuhi batu-batu kecil ibarat daun-daun yang hancur dimakan ulat.

Ketiga, Burung-burung itu tidak ikut meledak, tidak terbakar padahal yang dibawa adalah batu yang panas. Masing-masing burung itu membawa 3 batu, 2 dicengkeram di kaki dan 1 digigit di paruh. Mengapa bisa demikian?

Itulah mukjizat para nabi terdahulu. Biasanya dalam bentuk fisik material yang bisa disaksikan secara indrawi. Intinya, demonstrasi Allah untuk menunjukkan kekuasaannya. Hukum Allah, sunnatullah yang diperlakukan pada alam.

Kita tentunya pernah membaca bagaimana Nabi Ibrahim dibakar, api tetap membakar kayu namun Ibrahim tidak terbakar karena Allah menjadikan api itu dingin bagi Nabi Ibrahim.

Kita pun tentunya mafhum air yang permukaan sama namun ketika dipukul dengan tongkat Nabi Musa bisa terbelah. Belahannya bisa sebesar gunung. Ketika Nabi Musa lewat dia selamat. Namun ketika rombongan Firaun yang melintas, mereka pun digilas.

Ada juga air yang bisa mengalir dari tangan Nabi Muhammad SAW. Biasanya mukjizat Nabi Muhammad ini sesuai kebutuhan.  Contohnya ketika beliau hijrah ke Madinah,  semua masyarakat Madinah berebut menjamu di rumah masing-masing. Jumlah rombongan saat itu 80 orang.  Saat itu Rasulullah menunggu unta betina berhenti. Ternyata berhenti di rumah anak yatim sehingga makanan terbatas. Rombongan memberitahu akan makan di tempat anak yatim tersebut. Tentu saja tuan rumah khawatir karena tidak punya bahan makanan yang banyak. Namun Rasul meminta tuan rumah masak seperti biasa. Akhirnya, 80 orang makan, semua kenyang, semua makanan tetap utuh. Tidak berkurang.

Itulah rekayasa Allah. Teknologi Allah. Kalau pasukan gajah dihantam dengan burung kecil maka yang terjadi pada Firaun adalah rekayasa Allah yang lain. Fir’aun dipermalukan Allah. Dari ribuan bayi laki-laki yang dibunuh ternyata bayi laki-laki yang mengancam kekuasaannya justru bayi yang dipeliharanya.

Dari kisahnya pun kita bisa melihat bagaimana rekayasa Allah bekerja. Bagaimana Allah memberi ilham, menyuruh ibu Musa untuk menyusukan bayinya kemudian melemparkan ke sungai Nil, kemudian hanyut dan diambil oleh Asiyah istri Fir’aun. Kalau kita bayangkan seorang bayi dibuang ke laut pasti akan mati. Namun yang terjadi sebaliknya, teknologi Allah, sungai mau menerima bayi, tidak menenggelamkannya.

Demikian bahasan tentara-tentara Allah. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang mampu mencermati setiap kejadian dengan akal pikiran kita yang pada akhirnya semakin mendekatkan kita pada Sang Khaliq.

Surabaya, 9 November 2020

2 Replies to “Tentara-Tentara Allah (1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published.