Tentara-Tentara Allah (2)

Lalat, salah satu tentara-tentara Allah. Sumber: republika.co.id

Disarikan dari Kajian Tafsir Prof. DR. H. Moh. Roem Rowi, MA. untuk Pegawai YLPI Al Hikmah. Jumat,  27 November 2020

Pada bagian pertama kita telah membahas tentara-tentara Allah berupa sekumpulan burung kecil yang diturunkan di kota Mekkah untuk menghancurkan pasukan gajah. Bisa dibaca di sini.

Sekarang kita akan mengupas tentara Allah dalam bentuk yang lain. Beberapa di antaranya adalah langit dan bumi. Sebagaimana disajikan dalam QS. Al Fath (48) ayat 4 yang artinya: Dialah Allah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang yang beriman supaya bertambah imannya. Hanya milik Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Ayat ini mengajarkan agar kita yakin bahwa kita selalu bersama Zat yang paling menentukan. Maha segala-galanya. Maha Kuasa, Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan sebagainya. Memang sudah semestinya orang beriman tidak boleh mengenal stres, minder, gelisah karena Allah selalu bersamanya. Jika ada dua orang, maka Allah ketiganya. Jika tiga orang, Allah keempatnya. Jika empat orang, Allah kelimanya. Begitu seterusnya. Allah selalu bersama kita maka tidak pantas jika sampai kita stres. Sebagaimana yang tertuang dalam QS. Ali Imran ayat 139 yang artinya:  Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu gelisah, padahal kamulah orang orang yang paling unggul, jika kamu orang-orang yang beriman.

Hanya milik Allah-lah tentara langit dan bumi. Makna ayat ini menunjukkan bahwa langit bisa menjadi tentara Allah, begitu juga bumi. Langit bisa menurunkan badai dan hujan deras yang menakutkan. Kadang juga berupa angin sebagaimana yang dikisahkan dalam perang Khandaq. Saat itu seluruh suku bangsa Arab mengirimkan pasukannya mengepung Madinah. Targetnya menamatkan Rasulullah SAW bersama pengikutnya. Beliau bertahan dengan parit atas ide Salman Al Farisi. Membuat parit dengan menggali tanah berbatu. Allah mengirimkan tentaranya dalam  bentuk angin yang kencang dan sangat dingin.

Langit dan bumi bisa berubah menjadi tentara Allah. Bumi bisa berguncang menjelma gempa. Mengapa langit dan bumi bisa seperti itu? Karena semua tunduk patuh pada Allah. Dalam bahasa Alquran, aslama... dan hanya pada Allah semua tunduk patuh baik secara sukarela maupun terpaksa. Semua tunduk patuh tanpa menawar kecuali manusia.  Seharusnya kita berkaca pada mereka yang selalu tunduk patuh. Itulah makna Islam, dengan tunduk patuh terjadilah keselamatan. Terbentuklah keharmonisan. Semuanya milik Allah sebagaimana diulang kembali dalam QS. Al Fath(48) ayat 7 yang artinya: Hanya milik Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Gunung meletus, laut menjelma tsunami,  tanah longsor merupakan tentara-tentara Allah. Semuanya minimal mengingatkan kita akan dosa-dosa kita. Hal tersebut adalah penegasan Allah bahwa langit dan bumi setiap saat bisa menjadi tentara Allah. Tujuannya mengingatkan kita karena Allah tidak mengazab. Hanya cubitan-cubitan kecil yang akan  mengajak kita pada kebaikan.

Tentara-tentara Allah di atas berupa kekuatan yang maha dahsyat. Ada juga tentara Allah yang lain. Kecil bentuknya bahkan lebih kecil dari seekor burung. Lalat salah satunya. Sebagaimana termaktub dalam QS. Al Hajj (22): 73 -75. Dalam ayat ini digambarkan bahwa Allah telah membuat gambaran nyata maka simaklah dengan penuh perenungan bahwa semua yang disembah selain Allah tidak bakal mampu menciptakan seekor lalat.

Jika negara-negara superpower seperti Amerika, Rusia berkolaborasi dengan negara-negara berbasis IT terkini seperti Jepang, Korea, Jerman untuk menciptakan lalat tetap tidak akan mampu. Sebaliknya, lalat bisa merampas kehidupan mereka sehingga mereka tidak berdaya. Lalat bisa membawa virus, bakteri kemudian hinggap di makanan yang kita makan sehingga merampas kesehatan, bahkan tak jarang nyawa.

Selain lalat, nyamuk juga bisa menjadi tentara Allah. Dulu, ketika ada penyebutan tentang lalat, nyamuk, lebah, semut,  di dalam Alquran, para Yahudi melecehkan. Sekarang bisa kita saksikan nyamuk pun bisa merampas kesehatan kita. Salah satu contohnya nyamuk Aedes aegypti. Konon Namrud pun binasa karena nyamuk. Raja Diraja di masa lalu itu tewas oleh makhluk kecil bernama nyamuk.

Tentara Allah yang lain berbentuk lebah. Allah meminta kita meneladani lebah karena ia selalu tunduk patuh pada Allah. Lebah diminta membuat rumah dari pohon-pohon,  juga dari gunung dan dari apa yang dibuat manusia sebagaimana dalam QS. An Nahl ayat 68-69. Selain itu, ketika mengambil makanan sang lebah hanya mengambil sari-sari makanan saja tanpa merusak bunganya.  Lebah memproduksi madu. Itupun bukan untuk dirinya tapi untuk manusia. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.

Pelajaran yang bisa diambil adalah sebagai orang yang beriman kita harus makan harus seselektif mungkin. Halalan toyiban. Baik itu cara mendapatkannya maupun dosisnya. Setelah itu  hendaknya berbuat untuk orang lain. Manajemen lebah sangat luar biasa. Ada ratu yang harus dipatuhi. Tidak ada yang saling menyalahkan.

Tentara Allah yang lain adalah semut sebagaimana diabadikan dalam QS. An Naml (27). Yang bisa dipelajari dari semut adalah selalu bergerak tidak pernah santai. Mengangkut beban yang lebih besar secara bersama-sama. Semut tidak mengenal kemandegan seperti yang ada di QS. Al Insyrah (94) ayat 7 yang berbunyi fa iza faraghta fanshab. Artinya maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Demikian bahasan tentara-tentara Allah mulai dari langit, bumi, angin, dan binatang-binatang kecil seperti lalat, nyamuk, lebah, dan semut. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari penciptaan tentara-tentara Allah yang selalu tunduk patuh pada Sang Khaliq. Aamiin.

 

Sidoarjo, 30 November 2020

4 Replies to “Tentara-Tentara Allah (2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published.