Salat dalam Hidup, Hidup dalam Salat

Siswa SD Al Hikmah Surabaya sedang melaksanakan salat.

Pembelajaran daring dengan plus minusnya harus ditempuh karena kondisi yang tidak terelakkan. Rupanya hal ini juga menjadi concern tersendiri bagi para pembina dan pengurus Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Al Hikmah Surabaya. Imbasnya, kami di Tim Penjamin Mutu Direktorat harus melakukan rapat maraton bersama Litbang dan wakil kepala kesiswaan (wakasis) masing-masing unit mulai KB-TK sampai SMA.

Agendanya hanya satu, membahas kondisi berbudi siswa. Berbudi dan berprestasi adalah tagline Al Hikmah. Untuk urusan berprestasi mungkin masih bisa dioptimalkan meskipun dalam kondisi pandemi. Pembelajaran tetap berlangsung, guru-guru masih antusias belajar dan mengajar berbasis teknologi secara simultan. Beberapa kompetisi yang diikuti sekolah masih membuahkan prestasi. Intinya, secara akademik masih bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, lain halnya dengan berbudi. Dengan kata lain budi adalah sikap, karakter, atau akhlak yang tidak bisa dibentuk secara daring. Ia harus diteladankan, ditumbuhkan, dikembangkan, dan diwariskan secara riil. Hampir 10 bulan sejak Maret 2020 anak-anak belajar daring. Pertanyaannya, bagaimana perkembangan akhlak anak-anak? Bagaimana ibadahnya, salatnya? Apa yang mesti disiapkan sekolah untuk mengejar ketertinggalan khususnya akhlak selama 10 bulan ini? Mengapa harus akhlak? Sebab Islam adalah akhlak dan akhlak adalah produk dari salat. Ukuran salat yang sukses adalah membentuk akhlak yang mulia.

Tidak bisa dipungkiri, ketika kondisi normal guru bisa mengawal sepenuhnya salat anak-anak. Setidaknya ketika mereka di sekolah. Namun kondisi pandemi memaksa orang tua berperan sebagai guru dalam hal  ini. Jika orang tua mengambil peran aktif dalam mengawal salat anak-anak di rumah, hasilnya menjadi baik. Sebaliknya, jika orang tua menyerahkan sepenuhnya pada anak maka bisa dilihat hasilnya. Memang ada anak-anak tertentu yang sudah mencapai tahap kesadaran dalam menegakkan salatnya, tapi berapa persen dari jumlah seluruh siswa di sekolah?  Di sinilah pentingnya peran orang tua. Sinergitas orang tua dan guru dalam menegakkan salat anak.

Dalam sebuah diskusi tentang salat ini, Ustad Muhammad Taufik AB menyatakan sebuah kalimat yang patut direnungkan yaitu salat dalam hidup, hidup dalam salat. Kalimat ini sederhana namun dalam maknanya. Salat dalam hidup artinya ya.. salat yang kita lakukan selama ini. Minimal lima kali dalam sehari karena memang wajib.  Bisa kita tambahkan dengan salat-salat sunah pengiringnya baik sebelum maupun sesudah salat wajib. Kalau kita rajin, kita bisa menambahkan dengan salat tahajud, salat hajat, salat duha, dan sebagainya. Kita setia dalam melaksanakan salat seperti dalam QS. Al Ma’arij ayat 23. Itulah salat dalam hidup. Salat secara fisik.

Lain lagi dengan hidup dalam salat. Artinya semua yang kita lakukan sehari-hari harus diwarnai salat. Bagaimana salat itu menjadi motor penggerak kebaikan.  Apa yang kita kerjakan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi harus mengandung salat.  Harus memancarkan ruh salat itu sendiri. Dalam hadist Bukhari-Muslim disebutkan buniyal Islam ala khamsin– Islam dibangun atas lima perkara yaitu syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Salat harus diberi tanda tebal-tebal karena salat yang baik dan benar telah diwarnai sekaligus akan mewarnai syahadat, zakat, puasa, dan haji kita. Salat menjadi inti hidup seorang muslim.

Ukuran salat yang sukses adalah membentuk akhlak yang mulia. Seperti yang tertulis di QS. Al Ankabut ayat 45 yang artinya sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Jika kita merasa sudah salat namun masih mampu berbuat keji dan mungkar berarti kita masih belum salat. Inilah salat secara maknawi. Pertanyaannya, sudahkah kita hidup dalam salat?

Tulisan ini sebagai pengingat diri agar kita selalu memperbaiki salat yang kita lakukan. Yang penting lagi,  jangan  berhenti pada kita saja —orang tua dan guru—tetapi juga merangkul anak-anak agar apa yang mereka lakukan juga berwarna salat.

Semoga Allah SWT meringankan langkah hati dan kaki kita dalam menegakkan salat sesungguhnya. Aamiin Ya Rabbal alamiin.

 

Sidoarjo, 8 November 2020

12 Replies to “Salat dalam Hidup, Hidup dalam Salat”

    1. Yaa Allah bu…. Benar. Berbudi harus jadi fokus juga dalam pembelajaran daring pandemi.
      Contohnya, setiap pembukaan pembelajaran guru menyapa dengan hati pada seluruh siswa. Bagaimana suasana hati hari ini ? Hayoo berdoa dan mendoakan diri kita dan orang tersekat kita. Alhamdulillah….. Bunda masak untuk kalian. Terima kasih dulu sana ke Bunda. Dll. Insyaallah akhlaq tetap terjaga dan pembelajaran nyaman dan mudah dicerna anak kita.
      Hayoo upayakan mengajar dan mendidik jangan hanya transfer materi tanpa menghadirkan hati.
      Ajak anak selalu bersyukur dan bersyukur akan nikmat indah hari hari ini. Bismillah sukses.

  1. Yaa Allah bu…. Benar. Berbudi harus jadi fokus juga dalam pembelajaran daring pandemi.
    Contohnya, setiap pembukaan pembelajaran guru menyapa dengan hati pada seluruh siswa. Bagaimana suasana hati hari ini ? Hayoo berdoa dan mendoakan diri kita dan orang tersekat kita. Alhamdulillah….. Bunda masak untuk kalian. Terima kasih dulu sana ke Bunda. Dll. Insyaallah akhlaq tetap terjaga dan pembelajaran nyaman dan mudah dicerna anak kita.
    Hayoo upayakan mengajar dan mendidik jangan hanya transfer materi tanpa menghadirkan hati.
    Ajak anak selalu bersyukur dan bersyukur akan nikmat indah hari hari ini. Bismillah sukses.

Leave a Reply

Your email address will not be published.