Menjadi Guru Penggerak

sumber: app-gurupenggerak.simpkb.id

Barangkali sudah menjadi “bawaan” sehingga saya merasa ingin berkontribusi dalam suatu kegiatan. Dulu, ketika saya masih tinggal di perumahan lama saya menginisiasi sebuah kegiatan dengan beberapa teman. Saat itu hanya 5 keluarga yang menempati rumah dalam satu blok. Di blok-blok yang lain saya lihat tidak sampai 10 rumah yang sudah ditempati. Sepi.

Ketika sudah mencapai 8-10 keluarga akhirnya kepengurusan kampung dibentuk. Kami pun-para ibu membentuk kepengurusan PKK. Kami mulai mengadakan arisan dan beberapa program pokok PKK lainnya baik itu di bidang keagamaan, kesehatan maupun sosial. Program sederhana saja.

Ketika Ramadan tiba, kami menggelar salat tarawih di jalan karena memang belum ada masjid. Masing-masing membawa tikar dan alas salat. Setelah tarawih kami mengadakan tadarus Al-Quran. Bapak-bapak berkumpul bersama bapak-bapak. Begitu juga dengan para ibu. Di bawah temaram cahaya lampu kami deraskan Al-Quran. Sementara itu, anak-anak kami yang masih kecil saling berkejaran, berlarian dengan penuh keceriaan.  Canda tawa mereka berbaur dengan lantunan ayat-ayat suci yang kami deraskan.

Seiring perjalanan waktu, akhirnya kami memiliki masjid. Salat tarawih dilakukan di masjid. Para ayah melanjutkannya dengan tadarus Al-Quran. Para ibu menggelar Darling—tadarus keliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Selama sebulan kami mampu mengkhatamkan Al-Quran 2 sampai 3 kali. Tuan rumah menyediakan kudapan dan minuman sederhana yang bisa dinikmati saat menyelesaikan bacaan.

Program-program PKK pun semakin beragam. Mulai Posyandu, dasa wisma, bank sampah, keterampilan, senam sehat sampai pengajian. Jumlah warga semakin banyak. Kami pun semakin guyub. Hampir sepuluh tahun saya tinggal di perumahan rasa kampung itu sampai akhirnya saya harus pindah.

Ketika memasuki perumahan yang saya tempati sekarang, kondisinya jauh berbeda. Sudah lumayan jumlah penghuninya. Dari segi penghuninya mungkin lebih educated tapi dari segi sosial terkesan lebih tertutup. Masyarakat urban berusia produktif. Berangkat pagi pulang Magrib. Pintu dan pagar selalu tertutup.  Kalau ingat dulu-dulu, saya kangen rasanya disapa. Di perumahan rasa kampung itu kami bisa meminta kunir, jahe misalnya jika ada bumbu yang kurang saat memasak. Namun di sini, tidak mungkin saya lakukan.  Itu dulu.

Sekali lagi, saya mencoba menggerakkan para ibu. Akhirnya kami membentuk kepengurusan PKK RT. Program sederhananya arisan saja. Ketika peringatan kemerdekaan 17 Agustus, para ayah belum bergerak (karena sibuk bekerja) maka kami para ibu yang menginisiasi. Anehnya, saya didapuk sebagai ketua panitia karena mengusung ide peringatan tersebut. Alhamdulilah, lancar jaya. Perlombaan khas 17-an dilakukan. Lomba anak, ibu, dan ayah semua digelar.

Karena tidak mempunyai banyak dana maka hadiah diberikan oleh para donatur  yang tidak lain adalah para ibu. Saya ingat sekali ada yang memberikan jilbab barunya, termos, tumbler, dan sebagainya. Saya merasa ini kolaborasi emak-emak yang sangat bagus. Sekitar dua tahunan para ibu menjadi inisiator 17-an sampai akhirnya para ayah siap memimpin.

Jangkauan kami lebih besar. Kami bergerak membentuk kepengurusan PKK RW. Saya memegang Pokja 1 keagamaan. Menggerakkan kegiatan di bidang keagamaan dengan beragam program. Program-program PKK RW sangat beragam. Pernah kami mengadakan sebuah peringatan hari Kartini yang lumayan wah. Semua pengurus bergerak. Tim penggerak ini berkolaborasi dengan sangat cantik.

Ketika kami membangun masjid, saya merasa harus ada perwakilan keputrian. Dengan beberapa teman kami menggerakkan dakwah keputrian di masjid. Jadilah kami tim penggerak dakwah keputrian di masjid. Cukup banyak kegiatan yang kami lakukan. Mulai dari pengajian sampai bakti sosial. Peringatan Hari Besar Islam pun selalu melibatkan kami. Bakti sosial dari tahun ke tahun semakin besar perolehan dananya dan semakin besar pula jumlah penerimanya. Mulai dari para pembantu rumah tangga, satpam, tukang kebun, para penjual  di wilayah perumahan ini dan kaum dhuafa di luar perumahan kami.

Di sekolah, saya menjadi tim penggerak literasi. Tahun 2014 adalah awal kami melakukan gerakan literasi hingga saat ini. Tidak mudah menjadi tim penggerak. Jatuh bangun kami melaksanakannya tapi saya cukup menikmatinya. Saya pun senang mengikuti lomba-lomba guru yang akhirnya saya tularkan pada teman-teman guru lainnya. Guru-guru berprestasi pun bermunculan. Guru-guru penulis pun mulai menelurkan buku. Semua berkolaborasi mengembangkan kompetensi.

Ketika Kemdikbud membuka seleksi menjadi guru penggerak, entah mengapa saya tergerak untuk mengikutinya. Mungkin karena ada “bawaan” diri saya yang suka menggerakkan orang. Ditambah lagi, rasa penasaran saya pada program ini. Saya luruskan niat agar apa yang saya lakukan bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitar. Bukan hal lain. Apalagi sekadar tepuk tangan.

Dua hari yang lalu saya mendapat e-mail yang menyatakan saya lulus verval CV dan esai. Kemarin saya harus mengikuti Tes Bakat Skolastik. Sayangnya, ketika saya mengerjakan tes ini, koneksi terputus dari pusat. Akhirnya saya dijadwal ulang untuk tes yang sama hari Senin besok. Mohon doanya teman-teman agar saya bisa mengerjakan dengan baik, koneksi internet lancar, dan tidak ada penghalang lainnya.  Semoga saya bisa lulus program ini dan menjadi guru penggerak bagi guru-guru lainnya dengan skala yang lebih luas. Aamiin.

 

Sidoarjo, 22 November 2020

10 Replies to “Menjadi Guru Penggerak”

  1. Luar biasa Bu Herna,…Insya Allah tes guru penggeraknya Lulus…
    Terus semengat menggerakan dan senantiasa menebarkan kebaikan…

Leave a Reply

Your email address will not be published.