4D Theater, A Very Late Post

“Ayo nonton film, bi,” pinta Enji sambil menunjuk gedung yang tepat di hadapan kami saat ini. Gedung ini berdampingan dengan arena Go cart.

 

Abi memesan 4 tiket untuk nonton film 4D. Aku sebenarnya bertanya-tanya dalam hati, apa bedanya bioskop 3 dimensi dan 4 dimensi ini. Per tiket 15 ribu rupiah. Aku lupa judul filmnya. Yang pasti film anak-anak, film kartun. Kalau tidak salah tentang petualangan Billy, seekor burung. Setelah menerima tiket, segera kami menuju gedung bioskopnya. Petugas penjaga pintu memberi kami kaca mata khusus untuk menonton film jenis ini. Keseluruhannya berwarna hitam.

Continue reading “4D Theater, A Very Late Post”

Stasiun Malang Kota Baru

Akhirnya KA sampai di Malang setelah 2 jam lebih perjalanan. Kami turun di stasiun Malang Kota Baru. Karena ini pertama kalinya kami turun di stasiun ini kami coba mengikuti penumpang di depan. Ternyata turun dari KA kami harus menuruni tangga kemudian naik tangga kembali. Baru kemudian kami dapati sedang berada di pintu keluar KA.
 

Banyak orang berjualan di sisi kanan dan kiri pintu ini. Di depannya tempat parkir sepeda motor. Agak ke depan rupanya terminal sementara.  Banyak angkutan kota mangkal di situ. Kata abi, itu lin DPL. Angkot itu menuju ke terminal Landungsari. Dari Landungsari, ada lin lagi menuju ke Dau. Continue reading “Stasiun Malang Kota Baru”

Naik Kereta Api

Akhirnya cita-cita untuk naik kereta api kesampaian juga. KP bulan ini kami tempuh dengan KA Penataran. Tiket yang kupegang menunjukkan jam keberangkatan pukul 12.02. Abi hanya membelikan tiket berangkat karena untuk kepulangan tidak ada yang pas waktunya. Tiketnya murah sekali, 12 ribu rupiah per orang.
 
KP bulan ini berbarengan dengan penerimaan raport tengah semester. Jadi, abi menyarankan agar kami berangkat agak siangan sehingga bisa sampai di pondok sekitar Asar. Untunglah, Sabtunya termasuk Sabtu pertama, waktu libur. Hari Sabtu pagi kami berbelanja beberapa barang pesanan Salman. Sarung, piring, susu, makanan dan minuman ringan untuk sebulan.
 

Continue reading “Naik Kereta Api”

Kumis

Alhamdulillah. Akhirnya aku bertemu dengannya. Santri mungil di shaf pertama. Ketika kupandangi wajahnya, ada yang berubah. Di atas bibirnya mulai bermunculan rambut-rambut halus yang akan menjelma kumis. Alis matanya menjadi lebih hitam dan pekat. Apakah memang demikian ataukah karena hawa pegunungan yang menjadikan kulitnya lebih bersih sehingga alisnya tampak tebal?
 
Salman tampak sedikit lebih berisi. Apakah karena rambut gondrong yang membuatnya demikian? Santri mungilku hari itu lebih ceria. Ia bercerita banyak hal. Membuat hatiku berbunga-bunga. Beda ketika pertama kali KP di bulan kemarin. Rasanya aku ingin menangis melihatnya tidak begitu bersemangat. Mungkin karena kurang tidur.

Continue reading “Kumis”