“Kobongan”

Beberapa hari yang lalu aku bermimpi. Seorang anak berbaju putih, tiduran di lantai. Anak itu seperti sedang sakit. Matanya seolah memanggilku.  Sontak ketika bangun ingatanku langsung menuju Salman, putra ketigaku yang sedang mondok. Segera kulantunkan doa semoga putraku selalu sehat dan dilindungi Allah.
Kemarin, putra keduaku menerima raport sisipan semester ganjil. Dari suami, aku tahu bahwa raportnya “kobongan” . Istilah tersebut biasa digunakan para orang tua jika menemukan angka2 merah di raport. Aku santai saja, toh ini masih permulaan. Ketika sampai di rumah baru aku terkejut.

Continue reading ““Kobongan””

Di shaf pertama

Aku terbangun ketika jarum jam menunjukkan pukul 02.45. Sepi menyelimuti. Hanya suara ayat-ayat Alquran dari masjid yang menggema pelan. Disusul azan pertama. Seluruh penghuni guest house ini masih terlelap. Suara dengkuran masih tersisa. Aku menjadi yang pertama terjaga.
 
Segera kusisir rambutku. Kuikat dan kukenakan jilbab. Kurapikan selimut yang membungkus tubuh Enji. Ia tampak tenang dalam tidurnya. Kusiapkan mukena menuju ke masjid. Aku ingin ikut sholat lail seperti di bulan lalu.

Continue reading “Di shaf pertama”

Sandalku…

Hari Ahad, 2 September 2018 KP kedua. Seperti biasa, kami merencanakan berangkat hari Sabtu malam agar bisa bermalam di sana. Untuk KP kedua ini sebenarnya abi sudah mengantongi tiket KA. Sayang, jam keberangkatan yang terlalu malam—20.30 membuat kami berubah pikiran. Kami menggunakan moda bus untuk kedua kalinya. Tidak mengapa. Toh, bulan lalu perjalanan lancar jaya. Bus yang kami tumpangi bagus, bersih, dan kursinya besar. Ruang kaki juga lebih lebar.

Bungurasih di malam ahad sangat ramai. Kulihat tempat bus patas arah  alang di platform 7 masih kosong. Sebaliknya, para penumpang sudah antre bergerombol. Tidak rapi seperti warga Jepang ketika antre. Bahkan saat evakuasi gempa pun, mereka masih berdiri di antrian. Berjajar rapi. Aku mulai resah bagaimana menyikapi ini.

Continue reading “Sandalku…”